Tampilkan postingan dengan label Wild Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wild Romance. Tampilkan semua postingan

Sinopsis Wild Romance Episode 12

Posted: Minggu, 08 April 2012 by khyunkhyun in Label:
0

Read more >>

Sinopsis Wild Romance Episode 11

Posted: by khyunkhyun in Label:
0


Read more >>

Sinopsis Wild Romance Episode 10

Posted: by khyunkhyun in Label:
0
Keheningan Yogi berra (saat pertandingan Yankees, tidak hanya tim lawan, tapi juga penonton ikut merasakan kebisingan, tapi juga ada saat hening Yogi Berra)
Read more >>

Sinopsis Wild Romance Episode 9

Posted: Minggu, 18 Maret 2012 by khyunkhyun in Label:
0

Wild Romance Episode 9
Episode 9 : Siapa yang bersalah? Texas Hit (mengacu pada kegagalan memukul bola yang berubah menjadi pukulan yang menguntungkan). Tentunya, ini kejadian yang tidak menguntungkan pihak pertahanan.
“Aku tak tahu kapan hal ini mulai terjadi. tapi aku menyukaimu. Jika takdir itu ada. Takdirku adalah kau”. Muyeol tidak berkomentar apapun mendengar pengakuan Eun Jae.
Jonghee datang membawa kado untuk Muyeol. Melihat ekspresi Eunjae, Jonghee merasa dia mengganggu mereka berdua. Eunjae tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia menyuruh mereka mendekat sementara Eunjae menelpon Dongah. “Dongah, aku kalah. Aku ketawa sampai kaki tanganku lemas. Kau boleh ambil uangnya.” Dongah yang sedang tidur bingung apa yang Eunjae bicarakan.

Muyeol juga bingung dengan kelakuan Eunjae. Eunjae bilang dia sedang taruhan dengan Dongah, taruhan menyatakan cinta pada seseorang. Seseorang itu adalah Park Muyeol. Jonghee bertanya apa jawaban Muyeol? Muyeol menjawab, “Kau gila ya, jawaban seperti itu.” Jonghee bertanya mengapa dia melakukan taruhan seperti itu, bukankah itu agak tidak sopan. “Apa yang terjadi kalau Park Muyeol bilang iya?”tanyanya. “Oh, Jonghee mungkin tidak tahu, tapi hubungan kami adalah hubungan ‘Aku ingin kau mati’.”jawab Eunjae. Muyeol ogah-ogahan menjawabnya.
Eunjae mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Muyeol membuka kado yang diberikan Jonghee. Kadonya berupa kotak musik. Muyeol memutarnya dan Jonghee menari-nari mengikuti irama musik. Muyeol mengamati Jonghee sambil tersenyum. Eunjae melihatnya dengan sedih.

Muyeol juga memberikan hadiah pada Jonghee, hadiahnya parfum. Eunjae juga menuntut hadiah pada Muyeol. Muyeol berkata hadiahnya sudah dikirimkan lewat pengiriman ekspres. Eunjae bingung kado macam apa itu.
Changho sedang membuka bungkusan berisi daging sapi Korea.
Muyeol beralasan, karena kemarin Eunjae sakit, maka ia membelikannya daging sapi Korea. For information, di Korea daging sapi local tuh jauh lebih mahal dan lebih enak daripada daging sapi import. Eunjae sepertinya ingin dibelikan barang-barang seperti yang dibelikan Muyeol ke Jonghee. Muyeol berkata, kalau tidak mau kembalikan saja.

Muyeol mengabarkan ke Jonghee kalau Sooyung akan mengajar di akademi. Sooyung berkata itu pas karena ketika dia masih kuliah, dia belajar lebih banyak dari dia dibandingkan dari professor.
Setelah Jonghee pergi, tinggal Muyeol dan Eunjae berdua. Eunjae mengeluh kenapa yang dilihat hanya Jonghee, dia tidak dilihat sama sekali. Muyeol bertanya, “Kau mabuk?”. “Apa ini kau sebut mabuk?”jawab Eunjae. “Kau ini mengajak berantem saja..” Muyeol ingin mengacak-acak rambut Eunjae seperti biasa, tapi dia teringat akan pengakuan Eunjae tadi, akhirnya dia mengurungkan niatnya.
Eunjae menunggu taksi ditemani Muyeol. Muyeol terus memandang Eunjae. Kemudian berkata, “Hei idiot, tadi kau benar-benar serius, ya kan.”
Eunjae tidak menjawab karena taksinya sudah datang. Muyeol membuka pintu untuknya dan mengantarnya pulang. Muyeol terdiam melihat Eunjae pulang. Ada apa ini? Sudah mulai tumbuh benih benih cinta kah di hati Muyeol?
Di taksi Eunjae marah-marah tanpa suara. Dia membenturkan kepalanya ke kursi mobil. Sampai-sampai pak sopir akan menepikan mobilnya mengira Eunjae kenapa-kenapa.
Eunjae pulang dengan lesu. Ayah dan adiknya sudah menunggu. Eunjae ingin langsung pergi ke kamarnya, tapi ayahnya menahan. Ayahnya berkata ada kiriman dari si bajingan Park Muyeol. Eunjae mengabaikan ayahnya dan pergi ke kamar.
Ayah Eunjae terheran-heran kenapa Muyeol mengirim daging sapi itu. Awalnya ayah Eunjae ingin menolaknya. Tapi Changho berkata kalau daging ini kualitas premium. “Kalau ini cuma babi atau daging lainnya, sudah pasti aku buang langsung.”kata ayah. “Ayah, meskipun Park Muyeol bersalah, tapi daging ini tidak.”kata Changho. Akhirnya mereka mengambilnya.

Masih dengan lesu, Eunjae keluar kamar. Dia bertanya kepada Changho tentang ayahnya yang akan mengatakan cinta. Melihat tingkah lakunya yang sangat girang sepertinya semuanya lancer-lancar saja. “Dalam satu keluarga, setidaknya harus ada satu yang beruntung.”kata Eunjae. Changho melihat kakaknya seperti orang yang baru saja ditolak.
Muyeol tidak bisa tidur karena memikirkan kata-kata pengakuan Eunjae tadi. “Apa aku sudah gila, kenapa seperti ini?”katanya.
Eunjae datang ke rumah Muyeol disambut oleh bibi. Eunjae melihat syal yang dipakai bibi, karena tidak biasa bibi memakai syal di rumah. Bibi berkata itu hadiah natal dari Muyeol. Muyeol keluar kamar, melihat Eunjae tanpa berkata apa-apa.

Muyeol berlatih di lapangan, tapi dia tidak konsentrasi. Pukulannya banyak yang meleset. Eunjae melihatnya dari jauh. Dongsu datang mengingatkan janji mereka sore nanti.
Ternyata bukan hanya Dongsu dan Muyeol, tapi juga ada Sooyung dan Jonghee. Mereka pergi nonton. Eunjae juga ikut nonton. Di bioskop Jonghee sering bisik-bisik ke Muyeol, itu bikin Eunjae kesal. Alhasil dia makan popcorn dengan berisik, sampai orang di sebelahnya terganggu.
Setelah itu mereka main game. Eunjae benar-benar gak dipedulikan oleh mereka. Dua pasangan itu asik main, sementara Eunjae hanya melihat dari jauh atau dari belakang mereka. Setelah puas bermain, mereka pergi ke tempat makan. Eunjae mengawasi Muyeol yang sedang memberikan tanda tangan untuk anak-anak.
Jonghee bertanya pada Dongsu apa dia tidak cemburu pada Muyeol yang sekarang sudah jadi public figure? Dongsu diam saja. Jonghee bercerita dengan semangat ketika anak-anak itu mengejar Dongsu untuk meminta tanda tangan, Muyeol akan mencoba untuk merampasnya. Dongsu dan Sooyung tertawa mendengarnya. Tapi ekspresi Sooyung menyiratkan hal lain, sedih.
Dongsu pergi mengambil pesanan mereka. Eunjae menghampirinya. “Jonghee kan jauh lebih muda, tapi mengapa dia memanggilmu hanya dengan nama saja?” Dongsu menjawab Jonghee memanggil orang-orang yang dia sukai dan dekat dengannya dengan nama saja, terlepas dari umur mereka. Di sisi lain, dia sangat sopan pada orang yang tidak begitu disukainya.
Jonghee membagikan makanan. Dia memanggil Dongsu, Sooyung dan Muyeol dengan nama. Tapi memanggil Eunjae dengan nona. Hihihi..
Sooyung bertanya kapan Jonghee kembali ke Inggris. Jonghee berkata tidak tahu, karena kemungkinan dia tidak akan kembali ke sana. Jonghee berkata kalau dia berhenti melukis. Tidak benar-benar berhenti, lebih seperti tidak punya inspirasi. Mungkin kreativitasku sudah hilang. Sooyung kaget mendengarnya.
Di mobil, Sooyung masih memikirkan kata-kata Jonghee yang bilang berhenti melukis. Sooyung berkata bahwa dia berhenti melukis karena Jonghee. ”Boleh dibilang karena ibuku, tapi secara bersamaan karena Jonghee juga. Jonghee mampir ke sekolah ku saat dia kelas 9. Agak sedikit terlambat baginya untuk mulai melukis pada umur itu. Aku mulai belajar melukis sejak TK dari ibuku. Perasaanku saat melihat lukisan Jonghee pada saat itu aneh. Aku tahu dari dulu bahwa dia tidak akan berhasil. Masih mending kalau hanya aku saja yang merasa begitu, ibu juga melihat lukisannya, dan memiliki perasaan yang sama. Itu sebabnya aku merasa sedih sekarang.”. Dongsu ingin mencoba menghibur istrinya, “Awalnya kukira kau berhenti gara-gara aku. Aku merasa bersalah.”kata Dongsu bercanda.
Dongah terus mengawasi Yeonyuk di café. Ada seorang wanita yang memberikan secari kertas pada Yeonyuk. Dongah langsung melihatnya ingin tahu apa isi kertas itu. Yeonyuk membuang kertas itu ke tempat sampah. Dongah memungutnya. Ternyata isi kertas itu adalah nomor telepon si wanita. Dongah ngomel-ngomel ke Manager Kim di mobil ketika pulang kerja. Manager Kim hanya memandangi Dongah.
Sebelum turun Dongah memberikan kartu ucapan selamat tahun baru ke manager Kim. Dia bilang itu buatannya sendiri. Dongah berpesan, “Ada fotoku memakai bikini. Boleh kau pajang di mejamu”.
Manager Kim bengong, dengan perlahan membuka kartu nya. Di kartu itu ada perempuan berambut panjang mengenakan bikini. Perempuan itu adalah Dongah kecil, ahahaha. Kartu itu bertuliskan ‘Entah itu tahun baru atau bukan, bergembira lah setiap hari. Dongah mu.’. manager Kim senang menerima kartu itu. Ekspresinya senang, tapi aku kecewa, manager Kim senyumnya tipiis banget. Buset dah ni orang, gak inget cara nya senyum kali ya.
Eunjae bersiap untuk tidur, Dongah masuk memberikannya kartu tahun baru. Dongah bercerita memberikan Manager Kim foto bikininya. “Tahun baru perlu gebrakan baru.”kata Dongah. Eunjae menanyakan perkembangan kasus Seo Yunyeok. Dongah bercerita, anak itu sungguh beruntung dalam hal wanita, dia jago mengupas apel, dan jari-jarinya sangat panjang. “Kau naksir dia?”tanya Eunjae. “Sedikit, tapi hatiku hanya milik manager Kim seorang. Kau sendiri? Bagaimana dengan wartawan Koh?”. Eunjae gak nyambung awalnya, tapi kemudian wajah Eunjae menyiratkan kalau semua kacau balau (dengan Muyeol, bukan dengan wartawan Koh). Dongah memberinya nasihat agar lebih agresif. Eunjae hanya menganggap perkataan Dongah itu angin lalu. “Kau ini bukan wanita cantik. Bagaimana kau hanya menunggu cinta datang mengetuk pintu mu? Bahkan jika kau yang pertama melakukan pendekate, masih belum tentu berhasil.” Dongah to the point banget. “Orang yang kucintai membalas cintaku, bagaimana rasanya ya?”tanya Eunjae. Dongah menjawab rasanya seperti keajaiban, menurut buku.
Dongsu mengawasi orang-orang mengangkati kardus-kardus berisi peralatan bisbol. Muyeol berbincang dengan pelatih. Pelatih melihat Dongsu yang membawa kardus juga. Muyeol dan Dongsu pergi ke lapangan untuk melihat junior-juniornya berlatih, sambil bernostalgia masa lalu mereka. Dongsu bertanya tentang Jonghee, sepertinya Muyeol tidak bisa melupakan Jonghee meskipun mereka sudah putus.

Dongsu berkata kalau depresi Jonghee sembuh mereka berdua tidak akan memiliki masalah sama sekali. Eunjae mendengar pembicaraan mereka dari belakang. “Menurutku, jauh lebih baik sekarang daripada dulu. Kau juga bukan Park Muyeol yang dulu.”kata Dongsu lagi. Muyeol melihat Eunjae di belakangnya, kemudian mengambil salah satu kopi yang dia pegang. Dongsu juga akan mengambil kopi yang dibawakan Eunjae, tapi karena kesal Eunjae meminum kopi itu. Hahaha..
Jonghee ada di rumah Sooyung memperhatikan cara dia memasak. Jonghee berkomentar, dulu Sooyung sama sekali tidak bisa memasak. “Kalau aku sudah menikah apa aku harus melakukan hal-hal seperti ini?”tanyanya. Sooyung bertanya apa Jonghee benar-benar akan berhenti melukis. Jonghee berkata bukannya dia tidak mau, tapi dia tidak bisa. “Kau begitu gampang meneyerah.”kata Sooyung. “Gampang? Aku orang yang penuh pertimbangan.”kata Jonghee sambil makan. Lalu apa yang akan Jonghee lakukan. “Ada dua hal yang ingin aku lakukan. Pertama adalah melukis. Yang kedua adalah menjadi istri Park Muyeol”.
Di café, Dongah mencoba mencari tahu isi tas Yeonyuk. Yeonyuk mulai curiga ketika Dongah yang sedang mencuci piring tidak mematikan keran air. Yeonyuk akan masuk ke tempat penyimpanan tas di mana Dongah sedang membuka tas Yeonyuk. Tapi untung Dongah diselamatkan oleh pemilik café yang memanggilnya, ada tamu untuknya.

Wartawan Koh datang menemui Yeonyuk. Mereka berdua berbasa-basi sebentar. Dongah masih memperhatikan. Wartawan Koh kemudian mengeluarkan sebuah foto. Dengan sengaja menjatuhkan foto itu. Ternyata itu adalah foto Muyeol yang matanya dirusak. Dongah kaget melihat itu. Dia ingin bertanya kepada kedua orang itu, tapi pemilik café menyuruh Dongah menyapu halaman depan. Dongah melakukannya dengan kesal.
Wartawan Koh masih berada di café melihat Yeonyuk bekerja. Sambil bekerja Yeonyuk berbincang dengannya,. Apa itu kerjaan wartawan Koh? Aku penasaran siapa yang memberikan foto itu. “Kenapa kau memberikannya padaku? Atau mungkin kau memberikan itu pada beberapa orang lainnya”. Yeonyuk mendapatkan foto seperti itu juga tanpa tahu siapa yang mengirimkan. Wartawan Koh bertanya apa yang tertulis dibalik foto. Yeonyuk tidak mau memberi tahu. Wartawan Koh pergi dari café itu dan berpapasan dengan Dongah yang penasaran terhadap foto itu.
Dongah melapor kepada manager Kim yang sudah menunggunya di coffee shop. “Aku menemukan sesuatu.”katanya. Dia bercerita tentang seorang pria yang berbincang cukup lama dengan Yeonyuk (wartawan Koh) yang juga mempunyai foto Muyeol dengan mata bolong. Dongah mencoba menggambar sketsa wajah wartawan Koh diatas kertas tisu. Gambar wajahnya aneh.
Wartawan Koh memasuki coffee shop itu. Dongah ketakutan, dia kira orang itu mengikutinya. dia meminta manager Kim untuk berpura-pura sedang bermesraan dengannya. Wartawan Koh datang langsung ke tempat manager Kim dan Dongah. “Manager Kim?”sapa wartawan Koh.
Manager Kim mengenalkan Dongah kepada wartawan Koh. Begitu huga sebaliknya. “Aku barusan melihatmu di café, benarkan?”tanya wartawan Koh. Dongah bingung. Manager Kim menjelaskan bahwa wartawan Koh juga berpartisipasi dalam penyelidikan Seo Yeonyuk.
Dongah sedikit marah karena manager Kim tidak memberitahunya ada orang lain di tim mereka. Manager Kim beralasan kalau semua itu dadakan.

Wartawan Koh melihat gambar itu, dan bertanya gambar apa ini? Gambar orang? Kau gambar orang? Dongah mengambil gambar itu dengan paksa. Kesel.
Manager Kim bertanya kepada wartawan Koh tentang pertemuannya denga Yeonyuk. Wartawan Koh melapor kalau dugaan mereka benar. Yeonyuk menerima foto yang sama. “Kau yakin dia tidak tahu siapa pengirimnya?”tanya manager Kim. “Awalnya dia mengira akulah yang mengirimnya. Sepertinya pelaku mengenal Yeonyuk. Bukankah kau sudah mengamatinya?”tanya wartawan Koh.
Kesal, Dongah menaruh gelas minumannya dengan sedikit bertenaga (baca: dibanting). Manager Kim dan wartawan Koh hanya melihatnya tanpa komentar. “Jujur, cerdas..”kata manager Kim. Wartawan Koh membenarkan. “Seorang mahasiswa dari universitas favorit. Sebelum aku mendengar rekaman itu, tak pernah terpikirkan olehku Yeonyuk bisa bicara seperti itu. Tapi, tersangka mengenalnya dengan sangat baik. Bagaimana dia bisa tahu?”. Manager Kim sependapat, tersangka pasti sudah mengamatinya cukup lama. “Betul. Berarti orang itu ada didekatnya.”tambah wartawan Koh.

Manager Kim bertanya apa rencana wartawan Koh selanjutnya. “Pertama, aku harus memastikan apa orang itu si penipu atau bukan.”seru wartawan Koh. Dongah tiba-tiba memotong pembicaraan wartawan Koh, karena teringat sesuatu, “Wartawan Koh? Wartawan Koh yang itu?” wartawan Koh bingung apa yang diomongin Dongah. Dongah mengulanginya lagi, “Wartawan Koh nya Eunjae?”
Eunjae sedang menunggu Muyeol latihan sampai terkantuk-kantuk. Dua junior Muyeol datang melewati Eunjae dan memberi salam padanya. Tingkah kedua orang itu aneh tapi Eunjae tidak menyadarinya.
Di ruang loker, salah satu dari dua orang tadi bertanya kepada Muyeol, apa Eunjae sudah punya pacar?. “Idiot? Mana mungkin..”kata Muyeol. Ternyata Hyeonwoo naksir dengan Eunjae. Muyeol heran, kok bisa? Hyeonwoo berkata karena Eunjae imut. “Imut? Apanya?”. “Saat dia tertawa”kata Hyeonwoo lagi. “Seperti ini?” Muyeol memperagakan tawa babi Eunjae. Teman Hyeonwoo menambahkan, setiap kali ia tertawa seperti itu, jantungnya hampir copot. Hyeonwoo meminta Muyeol membantunya menjadi makcomblang. Hahaha…
Muyeol pergi mencari Eunjae. Dibalik kaca dia melihat Eunjae yang sedang berlatih menjadi perempuan. Latihan cara ketawa seperti perempuan, ralat, latihan biar mirip Jonghee. Muyeol tersenyum melihatnya. Mereka berhenti ketika Hyeonwoo dan temannya berjalan mendekati mereka.
Manager Kim, wartawan Koh dan Dongah masih membahas Yeonyuk. Sekarang Dongah memandang wartawan Koh dengan mata berbinar-binar. Kemudian Dongah ngacung, dia punya pertanyaan. Pertanyaannya adalah, “Wartawan Koh, tipemu sperti apa? Maksudku, bagaimana tipe wanita yang kau sukai?”. Wartawan Koh bingung, dia melirik ke arah manager Kim. “Hah? Kenapa kau tanya?”. Dongah berkilah, kalau mereka satu tim, seharusnya saling mengenal secara lebih mendalam. Dongah mau bantuin Eunjae, tapi kok ya salah sasaran..
Wartawan Koh cengar-cengir gak bisa jawab. Muka manager Kim sudah kaya mau makan orang, matanya melihat dengan tajam (oke, itu asumsi ku aja. Bener-bener susah menerangkan ekspresi manager Kim. Ekspresinya sedatar triplek.). “Gadis seksi? Gadis imut? Gadis polos? Atau gadis manja?”. Dongah menyebutkan semua tipe. Dia menyimak dengan seksama jawaban wartawan Koh, “Tentang itu..aku agak kolot..karena itu.. seorang gadis yang bisa bergantung kepadaku.” Dongah bertanya contohnya? “Saat aku melakukan kesalahan, atau sedang marah, dia bisa tahan denganku.” Dongah menghela nafas tanda mengerti. Manager Kim mulai curiga, soalnya Dongah bersikap seolah-olah dia yang naksir wartawan Koh.
“Seorang gadis yang tahan denganmu? Sepertinya agak susah.” Dongah bicara sendiri. Tiba-tiba manager Kim menjawab, “Aku suka gadis yang jujur. Kalau marah, ya marah…”kata-kata manager Kim dipotong oleh Dongah, “Oke, oke, apa saja..”. teeng..bener kan manager Kim mengeluarkan aura-aura jeleous nya.
“Wartawan Koh, apa pendapatmu tentang gadis tomboy?”. Dongah tetep cari informasi. Wartawan Koh, tidak menjawab. Kamera berfokus ke manager Kim yang sepertinya udah pengen kabur aja dari coffee shop itu.
Eunjae berpamitan dengan Muyeol, tapi sebelum pergi Muyeol bertanya pada Eunjae apa pendapatnya tentang Jo Hyeonwoo? Eunjae menjawab, dia atlet yang lumayan, lumayan keren. seandainya dia bisa memukul dengan lebih baik. Muyeol berkata bukan tentang itu. Muyeol nyerah, dan menyuruh Eunjae pergi.
Saat Eunjae pergi, datanglah Jonghee membawa anggur. Jonghee ingin minum anggur itu dengan Muyeol. Pergi lah Eunjae dengan muka kesal. Di luar, dia ngomel-ngomel, “Apa-apaan ini? Minum anggur tengah malam? Apa kau ingin bermesraan? Perilaku semacam itu sangat tidak bisa diterima.”kata Eunjae yang kemudian menempelkan telinganya di pintu Muyeol, berharap mendengar sesuatu.

Muyeol sedang membuka botol ketika terganggu short, kucing Jonghee, yang sedang ngeang-ngeong di depan pintu depan. Si kucing tahu kalau masih ada orang di luar. Muyeol menyalakan kamera depan rumahnya, melihat Eunjae masih berdiri di situ. Eunjae kaget tiba-tiba kameranya menyala. “Hei idiot, sedang apa kau?”tanya Muyeol. Eunjae lebih kaget lagi mendengar suara Muyeol. Eunjae beralasan kalau kamera rumahnya sedikit kotor. Dan kemudian dia pergi.
Di bis, Eunjae melanjutkan marah-marahnya. “Apa yang sebenarnya mereka lakukan?” di depannya ada pasangan yang sedang mesra-mesraan langsung duduk tegak begitu mendengar teriakan Eunjae. Dikiranya Eunjae neriakin mereka berdua kali ya. Eunjae benar-benar gelisah.
Muyeol ngobrol santai dengan Jonghee. Jonghee melihat kalung Muyeol yang ada bandul cincinnya. Jonghee bertanya mengapa dia menyimpan cincinnya juga? Jonghee berkata punyanya sudah hilang, tapi Muyeol berkata tidak, dia menemukannya di kotak suratnya. Jonghee kemudian memakai cincinnya kembali. Jonghee bertanya, apa pernah Muyeol merasa ingin berhenti main bisbol? “Pernah, sekali, saat kau bilang ingin putus denganku.”jawab Muyeol. “Aku merasa seperti ingin mati.”. Jonghee turut bersedih untuk saat berat Muyeol waktu itu.
“Kenapa kau melakukannya?”tanya Muyeol. “Bagaimana perasaanmu?” Jonghee balas bertanya. Muyeol diam, hanya memandangi Jonghee. Mereka berdua saling pandang. Dan kemudian mereka kissu..
Eunjae yang stress melampiaskannya dengan sit-up di kamarnya. Dongah datang, melaporkan kalau wartawan Koh juga melakukan penyelidikan. Dia juga memberitahu Eunjae kalau wartawan Koh suka gadis yang tenang dan jujur, kau harus berubah!!. “Saat pertama aku jatuh cinta padanya, aku ingin berubah. Pada saat yang sama aku bertanya tidak bisakah dia menyukaiku apa adanya?”kata Eunjae. Dongah memberi saran untuk melupakan wartawan Koh dan menunggu seseorang muncul, kalau begitu.
Bibi melihat dua gelas bekas anggur milik Muyeol dan Jonghee.
Muyeol masuk lift bersama Eunjae, terganggu melihat wajah Eunjae yang lesu dan tidak semangat. Eunjae berkata tidak apa-apa.
Seharusnya mereka turun di lantai bawah, karena mobil di parkir di sana. Tetapi Muyeol ingin ke lobi terlebih dahulu. Ternyata Muyeol menunggu Jonghee.
Mereka bertiga masuk lift bersama. Jonghee yang menekan tombol liftnya, dan terlihat cincin di jari Jonghee oleh Eunjae. Eunjae kaget, dan sedih. Benar-benar sedih.
Mereka bertiga pergi ke sebuah tempat di mana hampir semua dindingnya dicoret-coret oleh lukisan.

Muyeol dan Jonghee mendekati sebuah dinding, dimana mereka pernah melukis di sana. Lukisan itu masih ada meskipun dindingnya sudah terkelupas dan kotor. Di dinding bawah terdapat cap dua tangan. Yang satu tangan Jonghee dan yang satu tangan Muyeol.
Flashback, beberapa tahun yang lalu, malam-malam Muyeol dan Jonghee mendatangi tempat itu. Muyeol mengeluarkan cat dan kuas. Jonghee mulai melukis, Muyeol menyinarinya dengan senter. Mereka berdua tertawa bersama, dan membuat dua cap tangan itu. Muyeol juga menuliskan sesuatu di sana. ‘Aku bertemu denganmu untuk jatuh cinta padamu’. Tiba-tiba ada petugas datang mau menggerebek mereka, mereka pun lari.
Wajah Eunjae benar-benar patah hati. Bisa membayangkan gimana perasaan Eunjae saat itu. Di depan matanya sendiri, cintanya harus tercabik-cabik.
Muyeol bertanya kenapa kelakuan Eunjae seperti itu, kau agak menyeramkan saat diam seperti ini. “Karena aku terluka.”jawab Eunjae dengan lirih. Muyeol bertanya mana yang sakit?. “Menyakitkan saat melihat sesuatu.”jawab Eunjae. Muyeol mengira Eunjae kena flu. “Rasanya ingin mati saja.”tambahnya. “Lalu kenapa kau datang?”tanya Muyeol lagi. “Karena aku ingin.”jawab Eunjae.

Jonghee melewati toko yang menjual alat lukis. Dia berhenti di depannya dan memandanginya sebentar.
Sooyung juga sedang termenung di depan kanvas nya. Dia memikirkan Jonghee. Woyoung datang bersama ibu Sooyung. Ibu Sooyung bertanya tentang kedatangan Jonghee. “Kenapa kau tidak memberitahuku?” Jonghee ingin kedatangannya dirahasiakan. Ibu Sooyung meminta Jonghee untuk menelponnya. Sooyung memberitahu ibunya kalau Jonghee berhenti melukis. “Kalau tidak melukis, mau jadi apa dia?”tanya ibu Sooyung lagi. “Siapa yang tahu. Mungkin bagi ibu melukis adalah duniamu. Bagi Jonghee, ada banyak hal lain disamping lukisan.”
Eunjae diam-diam memperhatikan Muyeol yang sedang berlatih fisik. Dongsu datang memberitahukan Eunjae jadwal kerja sosial Muyeol. “Sunbaenim, apa kau percaya takdir?”tanya Eunjae, “saling bertemu lagi setelah bertahun-tahun, dan bersatu kembali adalah takdir.” Dongsu mengerti Eunjae membicarakan Muyeol dan Jonghee. Dongsu menyebut mereka berdua makhluk yang unik.

Direktur Jang sedang melihat-lihat tempat baru untuk kantornya, saat Eunjae menelponnya ingin bicara. Ternyata biaya sewa kantor baru itu sangat mahal, jadi direktur Jang gak jadi nyewa.
Saat akan memasuki mobil, Eunjae membuka pintu mobil untuk Muyeol. Agak aneh buat Muyeol karena Eunjae gak pernah melakukan itu. Di mobil Eunjae juga diam saja. Eunjae ingat masa-masa dia bersama Muyeol. And it’s soundtrack time. Masa-masa sebal saat awal ketemu, masa bahagia, sampai masa gelap Eunjae yang melihat Muyeol bersama Jonghee.
Melihat wajah Eunjae yang pucat Muyeol memerintahkannya untuk mengenakan pakaian yang lebih tebal keesokan harinya.
Sebelum pulang Eunjae ingin mengatakan sesuatu, “Jaga dirimu baik-baik.”katanya. “Ada apa? Kelakuanmu seolah-olah kita tidak akan bertemu lagi.” Eunjae tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung keluar. Di luar dia menangis sedih.



Episode 1 2 3 4 5 6 7 8




source : pelangidrama

Read more >>

Sinopsis Wild Romance Episode 8

Posted: Sabtu, 10 Maret 2012 by khyunkhyun in Label:
0


Muyeol kaget melihat Jonghee yang datang bersama Sooyung. Jonghee langsung memeluknya, Eunjae lalu tahu kalau orang itu adalah Kang Jonghee-nya Muyeol.
Dongsu mengenalkan Sooyung dan Jonghee pada semua yang ada di situ.
Eunjae shock berat melihat Jonghee ada di sana, sampai-sampai dia nggak sadar sudah menekan bel untuk memanggil pelayan.
Dongsu yang juga kaget akan kedatangan Jonghee bertanya apa yang terjadi. “Aku rindu pada kalian semua. Tidak boleh ya?”jawab Jonghee. ‘Tidak boleh’,kata Eunjae dalam hati. Muyeol masih meragukan alasan Jonghee, “Benarkah? Apa karena kebetulan?”tanya nya. “Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.” Eunjae menimpali nya dari dalam hati.
“Sebenarnya aku membaca berita di internet.”jawab Jonghee. “Tuh kan?” Eunjae masih nimbrung (dalam hati). Jonghee melihat berita di internet tentang Park Muyeol menganiaya orang, Park Muyeol mengamuk, dan Park Muyeol di skors. “Sebenarnya apa yang kau lakukan?”
Eunjae yang dari tadi sudah gak senang, menggebrak meja dengan gelasnya. Semuanya kaget dan melihat Eunjae. Eunjae lebih kesal lagi melihat Jonghee yang sok imut. Dongsu bercerita Jonghee kuat sekali minum arak. Akhirnya Eunjae menantang Jonghee untuk minum. Segelas.. Muyeol menyuruh Jonghee minum pelan-pelan saja. Eunjae megiyakan, “betul! Mungkin masih jet lag. Jangan paksa dirimu.” Sekarang giliran Jonghee yang menuangkan arak, “Melihat penampilanmu, kelihatannya kau baru datang dari tempat yang jauh.”kata Jonghee. Eunjae tidak mempedulikan dan terus minum. Muyeol keheranan melihat tingkah mereka berdua.
Eunjae pergi ke toilet bersama Dongah yang sedang muntah-muntah. Yang kuat-kuatan minum Eunjae, kenapa yang muntah Dongah. Dongah memuji Jonghee yang yang ternyata benar-benar kuat minum walaupun terlihat begitu kalem dan tenang. Eunjae kesal dan menendang pintu toilet yang didalamnya ada Dongah.
Eunjae memapah Dongah yang KO karena minum. Dari jauh dia melihat Muyeol yang ngobrol berdua dengan Jonghee.

“Sudah lama tidak bertemu denganmu, kau sudah bertambah tua.”kata Jonghee.
“Cuma hari ini saja.”jawab Muyeol. “Jadi biasanya kau tampan?”ledek Jonghee. “Tampan sekali.” Muyeol menjawab Jonghee yang sudah mabuk.
Eunjae tidak tahan lagi melihat Muyeol dan Jonghee, dia melempar Jonghee kemudian berjalan melewati tengah-tengah mereka berdua sambil teriak memanggil taksi. Hahaha. Eunjae menyuruh Jonghee masuk. Sooyung dan Dongsu juga masuk taksi yang sama.
Sebelum taksinya pergi, Muyeol mendekati Jonghee terlebih dahulu, “Jonghee, pulanglah dulu. Aku akan..” belum sempat Muyeol menyelesaikan kata-katanya, Eunjae sudah menutup pintu taksi. Dan menyuruh taksinya pergi. Muyeol ngomel karena tingkah Eunjae ini.
Sesampainya di rumah, Eunjae masih marah-marah. Lalu dia melihat adiknya yang sedang mengintip ayahnya. Ayahnya sedang telepon, tapi tingkah ayahnya itu seperti orang pacaran yang sedang telpon-telponan. “Hati yang sudah kesepian selama 10 tahun, akhirnya menemukan cinta juga.”komentar Eunjae. Changho heran mendengar kata-kata Eunjae barusan. Eunjae lalu membuka pintu kamar, dan berteriak menyemangati ayahnya agar pantang mundur. Ayah terbengong-bengong karena kaget.
Saat mencuci tangan, Eunjae melihat pantulan wajahnya di cermin, dan berkata “Cinta adalah hal yang misterius”. Eunaje kemudian mencari buku di rak buku Dongah. Di buku itu ada gambar seorang wanita cantik. Sepertinya Eunjae mau mempermak dirinya. Pertama, dia mulai dengan mencukur alisnya, alis kanan aman. Tapi alis kirinya tercukur banyak, alisnya jadi botak. Lalu, Eunaje menggunakan hair dryer untuk rambutnya. Di-blow gitu.. eh malah alisnya yang kepotong kelihatan, akhirnya rambutnya dilepekin lagi. Lalu, dia mengambil bedak, sekalinya nemplokin bedak, Eunjae malah bersin-bersin. Hahaha..
Dan keesokan harinya, terciptalah penampilan baru Eunjae..
Wah, Eunjae pake lipstick. Mana rambutnya lurus. Dia juga bergaya genit dengan menyampirkan rambut ke belakang telinganya (ngerti nggak maksud aku?)
Muyeol juga berpenampilan baru. Keduanya kaget saat bertemu. Eunjae heran, kemana kumis Muyeol. Muyeol juga, dia cuma ngeliatin Eunjae dari atas ke bawah lalu pergi dengan wajah bertanya-tanya.

Sebelum berangkat bibi menghampiri Eunjae, “Terima kasih sudah menemukan Muyeol kami. Aku sangat berterimakasih kepadamu.”kata bibi. Eunjae hanya tertawa menanggapinya. Kemudian Eunjae pergi menyusul Muyeol.
Di lift Eunjae berkomentar kalau parfum Muyeol terlalu menyengat. Muyeol mengecek bau di tangan dan di jasnya. “Kenapa kau bercukur?”tanya Eunjae. “Oh, untuk memulai awal yang baru. Tak ada yang istimewa.”jawab Muyeol. “Awal baru macam apa..”gerutu Eunjae. “Bagaimana menurutmu? Aku keren tidak?”tanya Muyeol lagi. “Lumayan, rapi. Seperti manusia pada layaknya.”jawab Eunjae. Giliran Muyeol yang bertanya, kenapa dengan rambut Eunjae? Eunjae berkata merapikannya sedikit, “Bagaimana menurutmu?”tanya Eunjae malu-malu. “Lumayan. Keren seperti tomboy.”jawab Muyeol. Eunjae gak senang dengan jawaban ini. Lalu Muyeol menyadari ada yang salah dengan alis Eunjae. Eunjae cepat-cepat menutupinya dengan sebelah tangan. Tapi Muyeol langsung menarik tangan Eunjae, “Hei separuh alismu hilang.”

Manager Kim memberikan jadwal untuk Muyeol. Manager Kim juga mengabarkan rumor kalau pembatalan pencekalan Park Muyeol dikarenakan sponsor tim. Manager Kim ingin merilis rekaman itu tanpa menyebutkan nama Kang Jonghee, tapi Muyeol menolaknya. Akhirnya manager Kim dan Muyeol sepakat mereka merahasiakan kasus ini. “Sebelum badai ini reda, aku harap kau bisa lebih berhati-hati.”saran manager Kim.
Dongsu sedang ngobrol bersama wartawan Koh saat Muyeol dan Eunjae masuk ke kantin. Awalnya Muyeol gembira melihat Dongsu, tapi berubah saat melihat ada wartawan Koh di situ. “Muyeol, bukankah ada sesuatu yang ingin kau katakan pada wartawan Koh?”tanya Dongsu. Muyeol tidak mengerti maksud Dongsu. Dongsu juga berkata kalau wartawan Koh juga mau berbicara dengannya. Dongsu meminta mereka berdua bicara sendiri. Dengan sedikit keterpaksaan, akhirnya Muyeol buka suara, “Itu… wartawan Koh… Ini tidak adil! Dia memasang penyadap.” Dongsu langsung menghardiknya, “Park Muyeol!”.
“Terima kasih.”kata Muyeol. “Dia bilang terima kasih.wartawan Koh, giliranmu.”. wartawan Koh juga dengan sedikit terpaksa dan jaim mulai berkata, “Itu.. mungkin aku telah menyinggungmu dalam beberapa hal. Aku juga melakukan beberapa hal yang buruk. Aku minta maaf.” Lalu Dongsu menyuruh mereka untuk bersalaman. Seperti anak kecil yang malu-malu akhirnya mereka bersalaman. Salamannya juga cuman menyentuhkan ujung tangan mereka berdua. “Ya ampun..”kata Muyeol langsung pergi. Eunjae ketawa terbahak-bahak. Dongsu juga ikut ketawa.
Eunjae sedang bergaya di depan ponselnya sambil menunggu Muyeol yang ganti baju untuk mulai pemanasan. Lalu dia menerima telepon dan kemudian berbalik arah dan mengganti bajunya lagi.
Muyeol ternyata janjian dengan Jonghee. Muyeol bertanya pada Eunjae, “bagaimana penampilannya, apa ada yang tersangkut di giginya”tanya Muyeol sambil nyengir. Eunjae tidak mau menjawabnya.
Muyeol duduk terpisah dengan Eunjae, tapi Eunjae mendengarkan pembicaraan mereka.
“Bagaimana bisa kau begitu tampan?”tanya Jonghee. ‘Apa itu? Menggelikan!’ Eunjae berkata dalam hati. “Bukannya selalu? Bagaimana tidurmu?”tanya Muyeol.
“Tidak juga.” Jonghee menimpali. ‘Kalau begitu pulang sana! Tidur! Untuk apa kemari?’kata Eunjae.
Jonghee bertanya siapa Seo Yunyeok. Muyeol kaget. Jonghee mendengar dari Dongsu dan Sooyung kalau Seo Yunyeok menjelek-jelekannya. Jonghee juga bertanya dimana dia sekarang, dia ingin tahu siapa dia sebenarnya.
Yunyeok akan keluar dari rumah sakit. Dia membawa bunga yang sepertinya didapat dari suster-suster yang naksir dia. Jonghee melihat Yunyeok yang sedang berjalan. Muyeol bertanya apa Jonghee mengenal orang itu. Jonghee menjawab dia tidak kenal orang itu sama sekali. “Aku pasti tak akan lupa pria ganteng seperti itu kalau aku pernah bertemu dengannya sebelumnya.” Jonghee menambahkan.

Jonghee kemudian menghampiri Yunyeok, “Keluar dari rumah sakit ya? Selamat!”kata Jonghee ke Yunyeok. Yunyeok menoleh ke Jonghee, “Ya. Terima kasih.”. “Kau kenal aku, tidak?”tanya Jonghee.
“Tidak yakin, aku tidak ingat.”jawab Yunyeok. “Sepertinya begitu. Kita tidak saling kenal, kan? Tapi kenapa kau berbuat seperti itu?” Yunyeok bingung. Tanpa babibu Jonghee mengambil setangkai mawar dari rangkaian mawar yang Yunyeok bawa dan menamparkannya ke wajah Yunyeok. Yunyeok dan suster kaget, “Kenapa dengan wanita itu?” begitu pula dengan Eunjae dan Muyeol.
Muyeol memperingatkan Jonghee untuk tidak mendekati orang itu lagi, karena dia berbahaya. Jonghee menggoda Muyeol, “Apa kau mencemaskanku?”.
“Serius!!”jawab Muyeol. Jonghee lalu menggigit tangan Muyeol. “Mengapa kau jadi marah?”tanya Jonghee sambil cemberut. “Aku tidak marah, aku khawatir kau terluka. Janji kau tidak melakukannya lagi.”jawab Muyeol. “Baik. Kalau begitu kita pergi makan.” Jonghee sudah tidak marah lagi.
Di kursi belakang Eunjae hanya diam dan menundukan kepalanya. Patah hati.
Mereka bertiga pergi makan. Eunjae duduk terpisah dari mereka berdua dan terus melihat Jonghee dengan tatapan tajam. Jonghee merasa tidak enak dilihatin terus, “Kenapa dia terus melihat ke arah sini?”tanya Jonghee ke Muyeol. Muyeol langsung membalikan badannya ke arah Eunjae. Eunjae tidak langsung membuang muka agar tidak ketahuan. Dia pelan pelan menggerakan kepalanya agar tidak menatap ke arah mereka lagi. “Dia memang seperti itu.”kata Muyeol mengomentari sikap Eunjae. Jonghee bertanya apa Muyeol tidak merasa terganggu? Awalnya begitu, tapi sekarang sudah terbiasa. Jonghee pamit ke kamar mandi.
Muyeol menoleh ke Eunjae, bertanya pendapatnya tentang Jonghee. “Sepertinya Jonghee menyukaiku.”kata Muyeol. ‘Yang jelas kau yang tergila-gila padanya.’batin Eunjae. “Mana aku tahu???”kata Eunjae. “Coba pikir. Kau juga seorang perempuan.”. “Bukannya tadi kau bilang aku bukan perempuan.”keluh Eunjae. “Okelah kau seorang wanita. Jadi, bagaimana menurutmu?” Muyeol memaksa. Eunjae diam saja, lalu dia berkata memang Jonghee orang yang lumayan menarik, “Cantik, rendah hati, bergaya, dan kuat minum. Tapi bagaimana mungkin gadis secantik dia masih jomblo sampai sekarang? Negara asing dimana penduduknya bebas nikah sepanjang tahun. Negara dimana hubungan bebas adalah lazim. Entah itu Tom atau Michael, mungkin dia sudah berpacaran dengan mereka.” Eunjae membuat Muyeol down.
Mereka bertiga pergi ke supermarket. Jonghee sedang memilih mug. Muyeol memperhatikan Jonghee, melihat jari tangannya lebih tepatnya. Jonghee bertanya apa Muyeol hari ini tidak ada jadwal? ‘Apa hubungannya dengamu’ lagi-lagi Eunjae membatin. Ni lama-lama Eunjae bakal jadi ahli kebatinan deh. Muyeol menjawab kalau dia memang ada latihan, tapi itu bisa ditunda. ‘sepertinya ada orang yang bakal berprestasi jelek tahun depan’komentar Eunjae. Jonghee dan Muyeol memilih mug untuk mereka. Kemudian Jonghee melihat ada sandal dengan gambaar beruang, Muyeol mengambil sandal dengan gambar harimau. Mereka berdua main-main dengan sandal itu. “Ah, benar-benar..”kata Eunjae. Mereka berdua berhenti bermain dan langsung menatapnya. Hahaha.. “Cuekin saja! aku hanya berpikir secara lantang.”kata Eunjae lagi.
Muyeol dan Jonghee jalan-jalan di supermarket, beberapa orang melihat ke arah mereka. Mereka berdua saling bercaanda. Lalu Jonghee bertanya sambil bercanda, “Park Muyeol punya pacar? Berpegangan tangan pun tidak boleh?” Eunjae yang ada dibelakang mereka mengangguk-anggukan kepalanya. “Seharusnya tidak masalah. Berpegangan tangan bolehlah. Lalu, bagaimana denganmu? Tidak apa-apa dekat denganku? Kau tidak punya pacar yang bernama Tom atau Michael?”. Jonghee menjawab sambil tertawa, “Sudah kuputuskan, karena mereka terlalu menjengkelkan.” Lalu mereka berdua bergandengan tangan.
Di rumahnya, lagi-lagi Eunjae melihat cermin. Dongah yang sedang membaca mengomentari temannya itu. “Lucu? Apa lucu memelototi wajah sendiri?” Eunjae mengeluh seandainya dia lebih cantik. Dongah memberi semangat, tidak ada yang mustahil. Eunjae beandai-andai alangkah baik kalau dia lebih cantik, lebih lembut. Dongah berkata kalau itu adalah suatu reinkarnasi.
Eunjae bertanya pada Dongah, kalau Dongah laki-laki, apa dia akan tertarik pada Eunjae? Dongah menjawab dengan bergumam, hmm. Eunjae bertanya dalam segi apa dia akan menyukai nya? “Pertanyaan subjektif ya (pertanyaan yang membutuhkan alasan). Kupikir itu adalah pertanyaan benar atau salah.” Hahaha… Dongah bertanya siapa orangnya? Pria macam apa dia? Eunjae manyangkalnya. “Apa kau pikir aku takkan tahu meski kau tak mengatakannya?” Dongah menebak perubahan Eunjae pasti dikarenakan oleh cinta. Tebakan pertama Dongah adalah Park Muyeol, tapi ternyata bukan. Eunjae bereaksi ketika nama Park Muyeol disebut. Kim Taehan (manager Kim) adalah punyaku. Dan Jin Dongsu adalah pria beristri. Jadi hanya ada satu jawaban, wartawan Koh.
Wartawan Koh bersin trus kupingnya gatal, karena diomongin sama mereka berdua. bwahaha, ini adegan paling lucu di episode ini.
Eunjae menyerah. “Sudahlah..” tapi Dongah tetap kekeuh ingin Eunjae cerita. Eunjae menolaknya mentah-mentah. Dongah berkata dia tahu segalanya tentang cinta dari buku. Eunjae malah lebih pusing dengar Dongah. Dongah bertanya apa Eunjae sudah mengutarakan perasaannya? Belum. “Kenapa? Tidak pernah dengar serangan lebih dulu?”. “Aku tahu, tapi aku tidak percaya diri sebagai seorang perempuan.”kata Eunjae dengan sedih. Dongah melihat Eunjae dari atas ke bawah, dan menghiburnya bahwa cinta tak serumit itu. Cinta adalah ketertarikan terhadap pesona seseorang. Kau juga punya sisi yang sangat menarik. Berusahalah mencari sesuatu yang tidak dimiliki wanita lain. Eunjae membandingkan dirinya dengan Jonghee, dan dia merasa tidak sebanding sama sekali.

Dongah tetap menyemangati Eunjae, bahwa dia pasti punya sesuatu yang bagus.
Muyeol senyum-senyum sendiri mengingat ketika dia dengan Jonghee, dan membuat dia lebih serius berlatih beban.
Ada bunyi ponsel, Muyeol cepat-cepat mengecek ponselnya. Tapi ternyata ponsel Hyunwoo yang bunyi. Muyeol kesal, langsung menyuruh Hyunwoo mengganti nada deringnya.
Muyeol sedang mencari alasan agar dia bisa bertemu dengan Jonghee, tapi tak ada acara khusus di tanggal terdekat.
Akhirnya Muyeol pergi ke rumah Dongsu dengan Wooyoung sebagai alasan. “Selamat atas kelulusanmu, nak.”kata Muyeol sambil memberikan hadiah kepada Wooyoung. “Aku tidak mengikuti kelulusan.”kata Wooyuong polos. Bukankah kau lulus dari TK? Padahal Wooyoung hanya pindah dari kelas bulan ke kelas matahari. Maksudnya, dari nol kecil ke nol besar gitu kali ya. Jonghee dan Eunjae ketawa melihat Muyeol dan Wooyoung. Muyeol malu, kalau begitu hadiahnya akan ku ambil lagi. Wooyoung tidak mau, dia mau hadiahnya.
Muyeol menelpon Dongsu kalau dia ada di rumah Dongsu. Dongsu langsung menyampaikan ke istrinya. “Sudah ku bilang kan kalau dia pasti akan datang dalam beberapa hari ini. Dongsu dan Sooyung berbicara tentang Muyeol dan Jonghee. Alasan mereka putus bukan karena mereka tidak cinta lagi.
Muyeol menemani Jonghee yang bermain dengan kucingnya. Kucing Jonghee tidak boleh dikeluarkan dari kandang karena Wooyoung alergi.
Eunjae bermain dengan Wooyoung. Wah adegan kaya gini terulang lagi. Eunjae membuka pintu kamar Wooyoung untuk mendengar apa yang Muyeol dan Jonghee bicarakan. Jonghee ingin pindah, dia meminta Muyeol kalau di rumahnya ada kamar lebih, bisa disewakan pada Jonghee.
Eunjae langsung berteriak, “Perempuan jalang, beraninya kau menentangku.” Wooyoung bingung apa itu perempuan jalang. Hahaahaa..
Jonghee merasa tidak enak tinggal di rumah Sooyung, tapi tinggal di hotel atau motel juga tidak bisa. Muyeol bertanya sampai kapan Jonghee di Korea. Jonghee juga tidak tahu, “Atau, aku tidak usah kembali saja?”candanya.
“Hentikan! Sebelum kusobek mulutmu yang bicara sembarangan.” Eunjae teriak-teriak lagi. Wooyoung jadi ketakutan.
Dongsu datang. Mereka semua makan bersama. Muyeol menyarankan agar Jonghee pindah ke apartemennya saja. Eunjae marah mendengar hal ini.
Muyeol dan Jonghee sedang melihat apartemen ditemani oleh pengelola apartemen. Pengelola mengira kalau Jonghee dan Muyeol sudah menikah.

Jonghee senang di apartemen itu, karena hewan peliharan juga diperbolehkan masuk. Jonghee menamai kucingnya ‘short’ yang kata Muyeol itu mengartikan dirinya. “Shortstop, itu aku.”kata Muyeol bahagia. Eunjae memberi semangat dengan sinis pada Muyeol. Muyeol bertanya ada apa dengan Eunjae, dulu begitu cepat marah, tapi akhir-akhir ini jadi semakin parah. Eunjae tidak menjawab pertanyaan Muyeol, dan meninggalkannya saat lift sampai di lantai yang dituju.
Eunjae juga murung ketika berada di kantor direktur Jang. Eunjae bertanya apa direkturnya pernah melanggar peraturan no. 5 tentang tidak boleh jatuh hati kepada kliennya. Direktur berkata pernah. Bercerita lah direktur Jang tentang wanita itu. Eunjae bukannya jadi lebih baik, malah jadi lebih sedih.
Muyeol sedang makan ketika Jonghee datang. Bibi kagak sedikit shock melihat kedatangan Jonghee.
Muyeol mengajaknya makan karena Jonghee belum punya peralatan apapun di kamarnya. Muyeol tersenyum melihat Jonghee yang sedang makan. Bibi juga memperhatikan mereka. Ada yang yang salah sama pandangan si bibi.
Eunjae menunggu Muyeol di gym, ternyata Muyeol sedang melamun. Eunjae tersenyum melihatnya, lalu memalingkan muka waktu Muyeol memergokinya sedang memandangi Muyeol.
Muyeol bertanya tentang cinta pertama Eunjae. Muyeol meledek pasti Eunjae tidak punya cinta pertama. Eunjae emosi, “Itu oppa seniorku di kelas sepuluh. Dia memberiku les tambahan. Kulitnya putih dan berkaamata. Dia sepertinya memiliki IQ lebih dari 150 dan mirip Song Jong Ki. Tahu Song Joong Ki kan? Yang jadi Gu Yong Ha di drama Sunkyungkwan Scandal, wah jadi kangen oppa ganteng satu itu ^^. Muyeol ingin tahu bagaimana kelanjutannya. Eunjae bilang kalau itu pribadi. “Diputusin?”. Eunjae protes bukan seperti itu.
Flashback ke masa Eunjae muda, Eunjae sedang bermain ice skating bersama oppa-yang mirip Song Joong Ki. Masa itu masa indah buat Eunjae. Setelah ice skating-an mereka berdua makan dan saling suap-suapan. Si cowok pamit ke kamar mandi, dan lama gak keluar-keluar. Eunjae menyusulnya ke toilet, dia menemukan oppa nya sedang dikeroyok. Tanpa basa-basi dia langsung menghajar orang-orang itu. Si oppa jadi takut melihat Eunjae.
Muyeol tertawa ngakak mendengar cerita Eunjae. Cerita selanjutnya bisa ditebak Muyeol. Si oppa gak muncul dihadapan Eunjae lagi. Satu nasihat dari Muyeol. “Hei, idiot, kalau kau bertemu seorang pria lagi, jangan kau pamerkan kejantananmu. Paham?”

Muyeol ingin bercerita tentang cinta pertamanya, tapi Eunjae tidak mau mendengarkan. Tapi Eunjae penasaran kenapa Jonghee dan Muyeol putus. Sekarang giliran Muyeol yang diam saja.
Eunjae berkata, semuanya akan sia-sia meskipun dia kembali. Gelas yang patah meskipun dilem lagi, dalam waktu singkat pasti akan bocor lagi. Hal ini membuat Muyeol kesal.
Seo Yunyeok membuka bar nya. Manager Kim dan Dongah ada di dalam mobil mengamati Yunyeok dan bar itu. Manager Kim : Sudah dikonfirmasi bahwa Seo Yunyeok tidak mengenal Kang Jonghee. Berarti, seseorang yang mengenal Park Muyeol telah memberinya informasi tentang Jonghee. Berarti, kita punya alasan lebih untuk tetap mengawasinya. Manager Kim lalu menoleh ke Dongah yang dari tadi dandan mulu. Manager Kim berkata kalau Dongah sepertinya sudah berlebihan. “Benarkah, apa warnanya terlalu menyolok?”tanya Dongah. “Bukan itu, aku agak tidak mengerti mengapa kau mau bersusah payah seperti ini. Hal ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu.” Dongah menjawab karena ini menyenangkan. Dia berpendapat itulah yang dilakukan pengangguran seperti dirinya. Dia harus terlibat dalam segala hal.
Dongah meminta bantuan manager Kim untuk memasangkan bulu mata palsu. Manager Kim agak takut awalnya, tapi kemudian memasangkannya juga. Manager Kim menghela nafas lega setelah Dongah keluar mobil, dia juga mengelap dahinya yang basah oleh keringat. Berinteraksi dengan perempuan segitu dekatnya sepertinya bikin manager Kim panas dingin.
Dongah salah kostum, dia berpenampilan seperti wanita bar dengan rok mini dan stoking jaringnya. Tapi yang dibutuhkan bar adalah karyawan dapur. Hahaha. Dongah tak peduli apa pekerjaannya yang penting dia bisa diterima. Pemilik bar mengetes Dongah dengan mengupas apel. Dongah sama sekali gak bisa mengupas apel, akhirnya Yunyeok yang melakukannya. Tunggu, Yunyeok kok jadi ganteng…???
Muyeol teringat masa lalu, saat Jonghee meminta putus darinya. Jonghee merasa hanya membawa kesusahan untuk Muyeol. Kalau hal yang sama terus terulang, lambat laun kau akan membenciku. Mereka berdua putus, meskipun saling mencintai.
Eunjae akhirnya bertanya pada Dongsu soal alasan kenapa Jonghee dan Muyeol putus. Dongsu bercerita kala Jonghee punya penyakit depresi ringan. Di saat kumat dia bahkan tidak bisa makan dengan baik. Pernah suatu kali ketika Muyeol akan berangat ke camp latihan, Jonghee mendadak kumat. Jonghee kabur. Muyeol akhirnya meninggalkan pelatihannya dan mencari Jonghee. Karena hal ini juga, pelatih ngamuk padanya. Untuk tidak melibatkan Muyeol pada situasi seperti ini, Jonghee minta putus.

Muyeol terus saja berlari di treadmill, Eunjae datang membawakan handuk. Eunjae hanya bisa menghela nafas melihat Muyeol.
Ada seseorang yang mengikuti Jonghee.
Ada seseorang juga yang mengikuti Eunjae. Setelah Eunjae berhenti dan berbalik, orang itu membekap mulutnya dan menariknya masuk. Muyeol yang semula ada didepannya berhenti, berbalik melihat Eunjae, disitu juga ada Jonghee yang tersenyum. Mereka berdua membalikan badan dan berjalan bergandengan meninggalkan Eunjae yang dibekap. Ternyata itu hanya mimpi buruk Eunjae.
Eunjae bangun dan melihat wajah ayahnya yang bersih tanpa brewok. Eunjae kaget sampai jadi gagap.
Ayahnya berkaca dan memakai topi Changho ( berlagak seperti anak muda). Changho marah topinya dipakai. Sebelum ayah Eunjae pergi kencan Eunjae memberi semangat kepadanya, ayah fighting. Dia merasa kalau semuanya rencana ayahnya lancar, berarti ada harapan juga baginya.
Malam natal, Muyeol bosan di rumah sendirian nonton home alone. Habis nonton dia baca buku, lalu tertidur. Muyeol lalu menelpon Eunjae yang sedang tidur. Muyeol menyuruh Eunjae datang ke rumahnya buat menemani dia.
Eunjae awalnya sok jual mahal, padahal dia senang banget Muyeol menyuruhnya datang. Sebelum berangkat Eunjae dandan dulu.
Sesampainya di tempat Muyeol. Muyeol sudah membelikan beberapa makanan. Muyeol melihat ada sesuatu di bibir Eunjae, lalu memegangnya. “Lipstik?” Muyeol kaget. Eunjae beralasan karena ini malam natal, jadi dia ingin tampil beda.
Muyeol diam saja di sofanya. Eunjae senyum-senyum melihat Muyeol. “Idiot, kau tidak kangen oppa cinta pertama mu?” Eunjae bilang tidak, karena dia pasti sudah bahagia di suatu tempat. Eunjae menanyakan Jonghee. Muyeol tidak tahu dimana Jonghee.

Jonghee sedang di rumahnya mengecat sebuah pajangan. Tiba-tiba ada sebuah surat masuk masuk dari bawah pintunya.
Eunjae bertanya mengapa tidak menelpon Jonghee. Muyeol balik bertanya, “Percayakah kau pada takdir? Orang bilang ada benang merah di diri kita yang akan menyatukanmu dengan orang yang ditakdirkan untuk hidup bersamamu.”
“Bagaimana dengan Elizabeth Tylor? Apakah berarti dia mempunyai 4 atau 5 benang?” Eunjae menimpali.
Bukan tentang berapa kali kau menikah atau berkencan, atau jatuh cinta. Tapi perasaan bahwa dia adalah belahan jiwamu.
Eunjae merasa ini tentang Jonghee lagi. Muyeol merasa semua ini belum berakhir. “Tidak ada hal seperti itu. Itu cuma perasaan yang tertinggal.”kata Eunjae. “Kalaupun iya itu bukanlah takdir. Bertemu ya bertemu. Putus ya putus. Apa hubungannya dengan takdir? Baik cinta atau dendam, semuanya akan sirna ditelan waktu.” Eunjae sedikit emosi.

Muyeol meledek Eunjae tahu apa dia soal cinta. Eunjae berkata tahu tentang cinta. “Dari umur 9 tahun aku sudah tahu kalau cinta adalah sebuah wabah yang mematikan.”
Muyeol tertawa mendengar perkataan Eunjae, dia mengira Eunjae pernah dicampakan seseorang. “Ibuku kabur dengan lelaki lain. Keluargaku hancur.” Muyeol berhenti menertawakan Eunjae. “Ibu-ibu menyerbu rumah kami dan menjambak rambut ibuku. Benar-benar memalukan sekali. Tapi ayah berkata sanggup memaafkan ibu sepenuh hati, karena cintanya pada ibu. Tapi ibu berkata ia tidak butuh apapun juga, termasuk anak-anaknya. Jadi ibu pergi dari rumah.” mata Eunjae mulai berkaca-kaca, ”kau pikir aku tidak tahu apapun soal cinta? Aku telah mewarisi gen yang hanya mengerti tentang cinta. Ibuku yang percaya takdir dan menduakan ayahku, akhirnya putus juga dengan lelaki itu. Ayahku menunggu selama 15 tahun sebelum mulai berkencan dengan wanita lain. Kau masih belum melewati 7 atau 8 tahun dan kau bilang itu takdirmu?” Eunjae mulai menangis.
Muyeol merasa tidak enak, dia bertanya pada Eunjae ada apa dengannya. “Aku cuma mau bilang, mencintai seseorang hingga ke liang kubur itu benar-benar merana.”kata Eunjae. “Apa?”tanya Muyeol.
“Aku tidak tahu awalnya kapan, aku suka padamu.” Muyeol diam, mencoba mencerna perkataan Eunjae. Eunjae juga diam sesaat. “Aku suka padamu. Jika takdir itu nyata, takdir itu adalah kamu.”
Muyeol kaget mendengarnya
-Bersambung-



Episode 1 2 3 4 5 6 7


Read more >>