sinopsis good doctor episode 5 part 2

Posted: Kamis, 05 September 2013 by khyunkhyun in Label:
0
Yoon Seo memasukkan uang ke dalam sebuah amplop. Kebetulan Do Han masuk ruangan dan melihatnya. Ia bertanya untuk apa uang itu? Yoon Seo tak menjawab, tapi Do Han tahu maksud Yoon Seo yang sebenarnya (uang duka cita) dan ia langsung melarangnya pergi.
Tapi Yoon Seo menolak. Ia tak akan pergi jika acara penghormatan jenasah ada di tempat lain, tapi ini diadakan di rumah duka rumah sakit. Dan ia pergi atas nama pribadi, bukan sebagai dokter. Dan Do Han pun bertanya, “Sejak kapan kau menarik garis antara menjadi dokter dan individu?”


Yoon Seo menatap marah pada atasannya, membuat Do Han melunak dan memintanya untuk tak pergi ke pemakaman. Tapi Yoon Seo tetap memaksa pergi, sehingga Do Han mengancam akan menarik Yoon Seo dari semua kegiatan operasi selama sebulan jika ia melihat Yoon Seo berada di dekat rumah duka.
Belum sempat Yoon Seo membalas, muncul Chae Kyung yang menyapa Yoon Seo. Chae Kyung berbasa-basi dengan mengatakan kalau ia tahu Yoon Seo mengalami saat-saat yang sulit dan wajah Yoon Seo sedikit kurang sehat, jadi harusnya Yoon Seo mengambil cuti. Yoon Seo tak menjawab hanya menunduk.
Saat berdua saja, Chae Kyung memuji wajah Yoon Seo yang sekarang semakin cantik tak seperti saat dulu. Dan ia pun merasa iri karena tak pernah dimarahi oleh Do Han seperti itu.. Do Han mengatakan kalau Chae Kyung tak pernah melakukan kesalahan. Tapi Chae Kyung mengatakan ia tentu pernah melakukannya.
“Atau kau yang memang tak peduli padaku?” tanya Chae Kyung dengan nada bercanda. Tapi dengan nada lebih serius ia meneruskan, kalau menghukum atau marah adalah tanda bahwa Do Han peduli, “Tapi jika kau ingin dr. Cha  mengalami peningkatan, lebih baik kau bersikap biasa-biasa saja padanya. Bersandar pada seseorang , itu akan menjadi kebiasaan.”
Masih berbicara tentang surga, kali ini Shi On membicarakannya dengan In Hye yang mengatakan kalau ia merasa pernah melihat surga. Saat ia di UGD dan hampir mati, ia merasa sakit tapi tiba-tiba tidak dan ia merasa nyaman, “Aku melihat cahaya putih. Dan aku seperti melihat tak melihat sayap malaikat.”
Shi On melongo membayangkan apa yang dikatakan In Hye, hingga In Hye berkata, “Tapi ternyata itu hanya karena efek obat. Mereka memberikan obat anti nyeri yang saaangat kuat.”
Hahaha..  In Hye sudah membuat harapan Shi On terbang. In Hye mengatakan kalau mereka bukanlah anak-anak lagi. Kenapa juga percaya akan hal-hal seperti itu, “Sinterklas dan surga itu hal yang sama. Orang-orang mengatakan kalau itu ada, tapi sebenarnya tidak.”
“Kenapa tidak ada surga? Pasti ada!” Yae Eun, teman sesama pasien, ternyata mendengarnya. Dengan wajah hampir menangis, ia langsung pergi, membuat In Hye menyesal mengapa Yae Eun harus mendengar hal ini sekarang.
Terlepas larangan Do Han, Yoon Seo ternyata tetap datang ke rumah duka. Di sana ia melihat kalau ternyata Do Han juga datang untuk mengucapkan rasa belasungkawa atas nama bedah anak. Orang tua Min Hee rupanya sudah lebih tenang sekarang dan minta maaf karena bertindak tak sopan sebelumnya.
Ibu Min Hee juga meminta agar Do Han menyampaikan maaf pada Yoon Seo karena ketidaksopanan mereka sebelumnya. Ibu Min Hee mengakui kalau ia sebelumnya membenci Yoon Seo karena merasa ialah yang membuat Min Hee meninggal.
Ibu Min Hee terisak, tak dapat meneruskan ucapannya. Yoon Seo yang mendengar dari jauh hanya bisa menunduk mendengarnya. Namun ibu Min Hee meneruskan setelah lebih tenang, “Tapi kami salah paham. Ia telah melakukan yang terbaik dan ia juga menderita seperti kami.  Kami menyadarinya sekarang.”
Ayah Min Hee juga meminta agar Do Han menyampaikan terima kasih pada dokter pria yang selalu berada di kamar jenasah, “Jadi Min Hee tak merasa kesepian.”
Yoon Seo menangis, dan memilih pergi setelah memberikan uang duka di meja penerima tamu. Sekembalinya dari rumah duka, ia bertemu dengan bibi petugas kantin dan heran apa yang sedang dilakukan wanita itu?
Ibu Shi On yang sebelumnya memakai masker (untuk menyembunyikan wajahnya) dan mengintip ke dalam ruangan residen, segera membuka masker dan dengan canggung berkata kalau ia belum menyampaikan amanat Yoon Seo, sehingga ia sekarang ingin melakukannya. Ibu Shi On menyerahkan bungkusan pada Yoon Seo.
Yoon Seo menerimanya dan berjanji akan memberikan makanan itu pada Shi On. Namun Yoon Seo tak dapat menutupi keheranannya, “Darimana bibi bisa tahu kalau kami dari Bagian bedah anak, karena sepertinya saya tak memberitahu bibi?”
Terbata-bata, ibu Shi On mengatakan kalau ia mencari tahu sendiri.  Ia pun pamit dan beranjak pergi. Tapi ibu Shi On berhenti dan berbalik untuk memberitahu kalau ia melihat Yoon Seo adalah gadis yang hangat dan bisa menjaga orang lain. Yoon Seo terkejut, tak menduga dipuji seperti itu oleh orang yang baru ia kenal.
Shi On terkejut melihat makanan yang ia terima. Sup bola-bola kentang, sama seperti yang ia tahu tak ada di menu kantin rumah sakit. Saat ia merasakannya, ia lebih terkejut lagi karena rasanya mirip dengan yang ia makan saat kecil dulu.
Yoon Seo hanya tersenyum melihat Shi On, membuat Shi On menawarkan makanan itu padanya. Yoon Seo menolak dan Shi On pun kembali makan dengan lahap. Yoon Seo menyampaikan rasa terima kasih  orang tua Min Hee yang tadi didengarnya di rumah duka dan bertanya, “Jika hal seperti ini terjadi lagi, apakah kau akan tetap melakukan hal yang sama?”
Tetap lahap mengunyah, Shi On mengiyakan. Yoon Seo bertanya lagi, “Walau aku dan Profesor Kim melarangmu?”
Berpikir sebentar, Shi On tetap mengangguk mantap. Ia berkata kalau kakaknya dulu pernah berkata, ‘Tidak peduli betapa takutnya kau, kau harus melakukannya jika kau mau. Orang yang bertahan, dan melewati semuanya adalah orang paling keren di dunia.’
Shi On: “Bagiku orang dan dunia sama menakutkannya. Tapi ketika aku mengingat ucapan kakakku ktu, aku menjadi kuat.”
Siapa sebenarnya pria misterius itu? Wapresdir Kang sekarang sedang menjamu pria itu di kaki lima dan tampak pria itu sangat menikmatinya. Pria itu juga lama tinggal di Amerika namun memiliki banyak informasi dari dalam. Ia mengatakan kalau ia tahu anak baru itu dipetisikan oleh para ibu pasien.
Ahh… anak baru itu ternyata Shi On dan bukannya Do Han. Silly me..
Wapresdir Kang juga terkejut mendengar pria itu mengetahui petisi itu. Ia menjelaskan kalau dr. Go dan Direktur Lee yang melakukannya tanpa ia ketahui.
Pria itu mengomentari kalau kedua biang kerok petisi itu berpikiran dangkal. Ia pun bertanya apakah anak baru itu memang benar-benar berguna? Wapresdir Kang mengangguk dan berkata kalau anak itu bisa mereka manfaatkan dan berjanji akan menangani petisi itu.
Tapi pria itu melarangnya, karena dalam satu dua hari, sesuatu yang bagus akan terjadi dan setelah itu tak akan ada yang meributkan petisi itu lagi. Pria itu juga mengatakan kalau dengan kejadian itu akan membantu tugas Wapresdir Kang nantinya.
Shi On masih ada di rumah sakit hingga malam hari, membuat Perawat Jo senang melihat Shi On yang kelihatan seperti residen yang sebenarnya dan berharap agar Shi On dapat segera bekerja menjadi residen yang sebenarnya.
Perawat Jo ini sepertinya memang bisa ngemong anak, deh. Saat Yae Eun lewat, ia segera menyapa Yae Eun dengan riang. Tapi Yae Eun hanya melewati mereka dengan murung. Perawat Jo da Shi On buru-buru mengejar Yae Eun.
Yae Eun pun mengungkapkan kegundahannya. Ayahnya mentransplantasi hati untuknya  karena ia menderita atresia bilier dan setelah itu diketahui kalau ayahnya terkena kanker hati dan meninggal, “Jika surga itu tak ada, lalu ayahku sekarang ada di mana?”
Perawat Jo mencoba menghibur dan mengatakan kalau surga itu memang ada. Tapi Yae Eun percaya dengan kata-kata In Hye. Sama seperti sinterklas yang juga tak ada.
Shi On pun berjongkok di depan Yae Eun dan bertanya apakah Yae Eun ingat akan wajah ayahnya? Yae Eun mengangguk. Apakah Yae Eun ingat saat bermain dengan ayahnya dan saat ayahnya memberikan hadiah? Yae Eun mengangguk lagi.
Maka Shi On pun berkata, “Kalau begitu tak masalah. Di dalam dirimu, ada sebuah pintu yang akan membawa ayahmu ke surga.”
Yae Eun bingung, “Pintu?” Shi On mengangguk dan mengetuk dadanya , “Jika kau tidak percaya surga, pintunya akan menghilang. Tapi jika kau memikirkan saat-saat bahagia dengan ayahmu dan selalu tersenyum,sebuah pintu besar akan muncul. Dan dengan pintu itu,  ayahmu dapat pergi ke surga dan ia dapat datang sesekali untuk mengunjungimu. Kelinci dan kakakku juga begitu.”
Yae Eun terdiam dan memikirkan ucapan Shi On. Perawat Jo langsung menyahut dengan mengatakan kalau ia teringat sebuah lagu dan menyanyikan lagu Gun’nRoses, “Knock-knock-knocking in your heaven’s door..”
Menurut Shi On, kalau orang yang tak percaya kalau surga itu ada, itu karena orang itu tak memiliki pintu surga di hatinya. Ucapan Shi On membuat Yae Eun tersenyum dan berkata kalausekarang perasaannya jauh lebih baik sekarang. Ia pun mendongak dan mengetuk dadanya, memanggil ayahnya, “Ayah akan sering datang, kan?”
Shi On tersenyum dan melakukan hal yang sama, memanggil kelnci dan kakaknya. Perawat Jo pun tak mau kalah. Ia juga ingin melakukannya. Ia mengetuk dadanya dan dengan suara lembut ia berkata, “Ibu.. apa Ibu sudah makan?”
Aww… perawat Jo ini manis banget, sih..
Shi On pergi ke rumah duka yang sudah sepi. Baju merah yang dijahitnya, diletakkan dengan rapi di bawah foto Min Hee. Sambil memandang foto Min Hee, ia berjanji dalam hati kalau ia akan meminta kakak dan kelincinya untuk bermain-main dengan Min Hee agar Min Hee tak bosan.
Di rumah, ia pun mulai menggambar di dinding putih apartemennya. Sedangkan Do Han juga sudah kembali ke rumah dan mengambil foto lamanya. Foto yang diambil di klub, saat ia minum-minum dengan Yoon Seo dan teman-temannya.
Yoon Seo juga masih belum tidur. Ia sedang bekerja di depan komputer saat teringat ucapan Shi On yang mengatakan kalau mengobati pasien itu penting, tapi memberikan kesempatan bagi pasien untuk hidup jugalah penting. Dan sepertinya kata-kata itu sangat membekas di benaknya, karena ia terdiam lama dan baru bergerak saat handphonenya berbunyi.
Telepon itu dari Do Han yang rupanya sudah ada di bawah dan memintanya untuk keluar menemuinya. Melihat sikap Yoon Seo padanya, Do Han bertanya apakah Yoon Seo masih marah padanya.
Yoon Seo menjawab kalau ia tak marah pada Do Han tap ia marahi lebih pada dirinya sendiri. Ia merasa 10 tahun ini ia bekerja tanpa berpikir. Sekarang ia bukan seorang dokter yang mengobati pasien tapi hanya seorang tekhnisi. Padahal ia bekerja di bagian bedah anak, bukan pabrik bedah, “Memberik kesempatan anak-anak untuk hidup adalah tugas utama dari bagian bedah anak. “
Do Han mengatakan kalau dokter bedah yang masih memiliki idealisme seperti itu akan segera jatuh. Tapi menurut Yoon Seo, itu bukan karena idealisme-nya, melainkan karena orang-orang itu (dia) memiliki ketekutan, ketakutan untuk mempertahankan idealismenya., “Ketakutan itulah yang membuat dokter bedah lemah. Dan saya tak ingin seperti itu.”
Do Han berkata kalau Yoon Seo sekarang mirip dengan Shi On. Ia mengingatkan Yoon Seo kalau mengabaikan tanggung jawab dan memiliki perasaan iba akan mengacaukan seorang dokter bedah dalam mengambil keputusan dan itu akan berakibat fatal.
Di dalam, Shi On masih terus menggambar yang sekarang sudah terlihat jelas apa yang ia gambar. Seorang gadis kecil, kelinci, kakaknya dan sebuah tangga. Yoon Seo mengatakan kalau Shi On bukannya mengabaikan tanggung jawabnya. Mulanya ia juga salah paham padanya. Tapi Shi On bukanlah robot. Ia juga meminta agar Do Han tetap mengijinkannya tinggal di Bagian Bedah Anak.
Do Han mengatakan kalau itu bukanlah wewenangnya, tapi Yoon Seo tak percaya karena Do Han pasti bisa melakukannya. Ia merasa Do Han yang terus mengabaikan Shi On adalah bentuk kekerasan dan ia tak dapat membiarkannya terus berjlanjut.  
Tapi Do Han mengatakan kalau yang akan Yoon Seo lakukan ini akan menjerumuskan Shi On lebih dalam lagi dan meminta gadis itu untuk tak menutupi Shi On lagi, karena  Yoon Seo akan menyiksa Shi On dengan memberinya harapan, “Tak peduli seberapa banyak bantuanmu, tak akan merubah banyak.Hasilnya sama saja.”
Yoon Seo kembali ke apartemen, dan saat melewati apartemen  Shi On, ia melihat Shi On ada di teras. Shi On mengatakan kalau ia tak bisa tidur walau sudah menghitung hinggal 1785 capung. Yoon Seo pun bertanya apa ia boleh berkunjung ke apartemen Shi On? Dan saat ia masuk, ia terkagum-kagum dengan lukisan yang digambar Shi On dan memuji kemampuan menggambar Shi On.
Ia segera mengenali gambar gadis kecil yang adalah Min Hee. Melihat gambar tangga, ia pun bertanya apakah itu surga? Shi On menggeleng dan mengetuk dadanya, “Di sini.” Yoon Seo masih tak mengerti maksud Shi On, maka Shi On berpikir untuk memberi jawaban.
Akhirnya ia menyanyi ‘Knock knock knocking on the heaven’s door..” sebelum memberi penjelasan lanjutan. Tapi Yoon Seo tersenyum dan mengatakan kalau ia sepertinya paham maksud Shi On. Shi On mengacungkan jempolnya pada Yoon Seo dan berkata kalau Yoon Seo memang benar-benar dokter yang pintar.
Yoon Seo tersenyum dan memeluk Shi On, “Terima kasih. Karenamu, noona ini dapat menghindar hanya menjadi seorang tekhnisi saja.”
Dan Shi On cegukan. Hehee.. jadi ingat Geul Oh di SKKS. :)
Di taman sambil makan kimbap, Yoon Seo bertanya tentang kakak Shi On yang meninggal. Maka Shi On pun menceritakan kejadian di goa tambang itu, “Kakakku meninggal karenaku. Karena aku takut, maka ia menemaniku masuk ke dalam goa. Dan goa itu runtuh.”
Shi On mengambil sapu tangannya, dan membuka isinya. Yoon Seo segera mengenali pisau bedah mainan yang dulu pernah tak sengaja dibuangnya. Shi On berkata kalau pisau bedah mainan itu adalah hadiah ulang tahun sebelum kakaknya pergi ke surga, “Ia memintaku untuk menjadi dokter, bagaimanapun caranya. Hyung menabung uang sakunya dan membelianku seperangkat mainan dokter-dokteran. Aku harus memenuhi janjiku. Aku harus menjadi dokter.”
Yoon Seo tersenyum. Ia memegang bahu Shi On dan berkata kalau Shi On harus memenuhi janji itu. Harus. Shi On mengangguk patuh.
Keesokan harinya, Yoon Seo memencet bel apartemen dan langsung membuka pintu Shi On (passwordnya belum diganti!) saat pintu tetap tak terbuka dan mengomeli Shi On yang masih tidur dan tak membuka pintu.
Shi On tak menjawab, malah membalikkan badannya, untuk tetap tidur.  Tanpa canggung, Yoon Seo menepuk pantat Shi On, menyuruhnya bangun. Shi On terbangun, dan setelah sadar ada Yoon Seo, ia langsung menutupi badannya yang hanya memakai celana pendek. Yoon Seo tertawa menggodanya, kalau ia sudah pernah melihat semua sebelumnya jadi tak ada gunanya.
Shi On melihat jam dan terkejut karena mereka sudah terlambat, membuat Yoon Seo tertawa lagi dan berkata kalau sekarang adalah hari Minggu. Kedatangannya ke rumah Shi On adalah untuk mengajaknya jalan-jalan karena ia menduga kalau Shi On belum sempat jalan-jalan di Seoul. Ia pun menawarkan diri untuk pergi jalan-jalan ke tempat yang diinginkan Shi On, “Nonton? Wisata kuliner? Atau warnet?” Yoon Seo memainkan jarinya, mengajaknya untuk main game.
Seperti anak kecil, Shi On hanya ‘euhh.. euhh..’ bingung mau apa. Yoon Seo semakin menggodanya, menyuruhnya segera memberikan jawaban sebelum hitungan kelima. Shi On semakin panik dan menggoyang-goyangkan kakinya, berpikir, sementara Yoon Seo mulai menghitung. Dan akhirnya ia berseru, “Aku.. aku mau ke sana!”
Ternyata Shi On ingin ke kebun binatang. Haha.. kayak anak kecil aja. Shi On tampak senang melihat harimau putih, anjing laut, dan menakuti-nakuti anak-anak lain saat di kandang beruang kutub, membuat Yoon Seo harus menarik Shi On menjauh dari sana.
Dan Yoon Seo pun jadi seperti kakak yang membawa si adik yang riang dan antusias, lari ke sana kemari, membuat Yoon Seo lelah. Hingga Shi On berdiri diam, memandang monyet yang berlompatan ke sana kemari. Yoon Seo bertanya apakah Shi On benar-benar sangat menyukai binatang?
Shi On mengangguk. Baginya, binatang mirip dengan anak-anak, sama-sama manis dan lucu dan keduanya bisa bermain dengan baik. Yoon Seo tersenyum dan menyindir Shi On, “Benar. Kau memang benar. Dan keduanya juga  mirip, sama-sama susah dikendalikan.”
Yoon Seo memperhatikan salah satu monyet dan berkata kalau pasti hari ini terasa sangat panas, hingga salah satu monyet nampak lemas lunglai. Shi On melihat monyet itu, dan buru-buru langsung pergi, membuat Yoon Seo mengeluh karena Shi On kabur lagi.
Ternyata Shi On mencari dokter hewan. Di klinik kebun binatang, dokter hewan itu membenarkan dugaan Shi On kalau monyet itu terkena radang usus dan akan menimbulkan masalah besar jika Shi On dan Yoon Seo tak melihatnya. Ia menduga kalau keduanya adalah dokter hewan dan tercengang saat tahu kalau kedua penyelamat monyet itu adalah dokter bedah anak.
Kembali ke kebun binatang, Yoon Seo bertanya apa Shi On adalah Horse doctor? Bagaimana Shi On bisa tahu? Shi On menjawab kalau saat ia menjad dokter muda dulu, ia sangat jarang bisa mengikuti operasi pasien anak-anak. Oleh karena itu, setiap akhir minggu ia pergi ke rumah sakit hewan untuk melihat operasi yang dilakukan. Ia membayangkan binatang itu adalah anak-anak.
Yoon Seo pun bertanya apakah Shi On tak ingin menjadi dokter hewan? Shi On sebenarnya mau, tapi ia tak dapat, “Karena kami sama-sama bodoh.”
Yoon Seo heran mendengar ucapan Shi On dan mengulang kata-kata Shi On lagi, “Kalian berdua sama-sama bodoh?” Shi On mengangguk dan menjelaskan kalau binatang itu bodoh dan ia harus menjadi cerdas. Tapi hal itu tak terjadi.
Mendengar penilaian Shi On yang rendah pada dirinya sendiri, membuat Yoon Seo mengerutkan kening.
Wapresdir Kang sedang menjadi penengah antara Presdir Lee yang diserang oleh Chae Kyung yang meminta ibu tirinya untuk membangun rumah sakit anak sendiri jika memang tak mengambil keuntungan dari bisnis itu.
Perdebatan mereka terhenti saat ada Sekretaris Presdir Lee masuk dan memberikan sebuah dokumen. Dari wajah Presdir Lee, terbaca kalau dokumen itu tak membawa kabar baik.
Wapresdir Kang kembali ke ruangannya dan teringat akan ucapan pria misterius yang mengatakan akan ada berita baik dalam sehari dua hari ini.
Ternyata dokumen itu juga sampai di meja dr. Choi. Dokumen itu adalah dokumen penghentian dukungan dari perusahaan Woomyung yang tak akan memberikan dana kepada RS Universitas Sung Won.
Di UGD ternyata juga ada kasus darurat karena Yoon Seo dan Jin Wook terburu-buru berlari ke sana. Ada kasus pasien anak berusia 10 tahun. Namun mengapa juga tangan residen Kil Nam berdarah-darah? Terdengar suara gonggongan, membuat Yoon Seo heran, “Apa ada anak anjing di dalam sana?”
Shi On juga bergegas ke UGD setelah diberitahu oleh salah satu suster penggosip yang panik. Dan saat ia masuk, ia melihat Yoon Seo mundur, menghindari cakaran. Untung cakaran itu tak mengenainya hanya menyobek lengan jasnya.
Memang siapa pasien itu yang mempunyai cakar binatang? Ternyata seorang anak yang berbadan kumuh dan sekarang menggeram, mengancam semua orang yang akan mendekatinya. Shi On yang melihatnya, perlahan-lahan merundukkan badannya dan merangkah mendekati anak itu.
Yoon Seo berseru mencoba menghalangi niat Shi On, tapi Shi On tetap merangkak maju. Saat sudah berhadap-hadapan, Shi On mengulurkan tangannya perlahan-lahan.
Anak itu memandang tangan Shi On.. dan menggigitnya. Shi On berteriak kesakitan dan anak itu langsung meloncat ke atas tempat tidur, menggeram dengan buas.

Komentar :


Entah kenapa, kok saya merasa Yoon Seo menganggap Shi On sebagai adiknya saja, ya? Dilihat dari umur pun memang seperti itu. Yoon Seo adalah sudah hampir menyelesaikan residensi bedah anaknya, sementara Shi On baru masuk di tahun pertama. Dan perhatian Yoon Seo pada Shi On pun seperti noona pada dongsaengnya.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, susah mengalahkan cinta pertama, apalagi cinta pertama seperti dr. Kim Do Han. Karena walau sekejam apapun pada Shi On, tapi kekejamannya itu berbeda dengan kekejaman dr. Go.
Uhh.. sebel deh kalau inget dr. Go. Siapa sih nama lengkapnya? Mungkin dr. Go To Hell, kali ya..
Dan saat melihat akhir episode 5 ini, pasti semua berpikir.. whoa.. werewolf boy? Tapi yang ini bukan boy, tapi girl. Dan saya langsung teringat dengan werewolf boy-nya Song Joong Ki.
Asyik kali ya, kalau ternyata yang datang adalah werewolf boy Song Joong Ki, yang akhirnya bisa ‘dijinakkan’ oleh Shi On dan mereka berteman baik, membuat Do Han kesal. Setelah werewolf boy sembuh, werewolf boy pun kembali, membuat Do Han tenang kembali.
Tapi ketenangannya tak berlangsung lama karena muncul dr. Maru yang sangat baik dan perhatian pada Shi On, membuat Yoon Seo memperhatikan dr. Maru dan Do Han menjadi kesal karena tersisih. Dan yang membuat Do Han lebih kesal karena Maru ternyata sama pintarnya dengan dia.
Hahaha… intinya fanfiction ini mah, nyiksa Do Han karena kejam sama Shi On dan untuk ngebuat dia sadar akan perasaannya pada Yoon Seo.

Related Posts by Categories

0 komentar: