Flower Boy Ramen Shop Episode 3

Posted: Jumat, 30 Desember 2011 by khyunkhyun in Label:
0


Setelah mencium keningnya, Chi Soo memperingatkan Eun Bi untuk tidak menganggunya atau ia akan benar-benar mengencaninya. Ia pergi meninggalkan ruang olahraga dan bergabung dengan teman-temannya, memberitahu mereka kalau ia baru saja membereskan sesuatu.
Dong Joo menemukan Eun Bi di ruang olahraga, yang masih melamun karena shock. Dong Joo menyuruhnya untuk segera pergi ke rumah sakit. Eun Bi setuju: “Bahkan kau tahu kalau ada sesuatu yang salah pada diriku.”
 

Tapi bukan itu alasannya menyuruh Eun Bi pergi ke rumah sakit, ternyata ayahnya telah di bawa ke ruang  gawat darurat. Ketika sampai disana, Eun Bi menemukan Ba Wool menangisi orang yang tubuhnya bayak diperban. Dengan satu pandangan, ia memukul kepala Ba Wool, “Itu bukan ayahku, anak nakal!”whahaha. Ternyata tangan ayah Eun Bi patah.
 

Di sebuah pesawat, pemandangan yang familiar terlihat, musik dan pencahayaan seperti di bagian awal episode 1, bahkan juga ada wanita yang sama yang dulu digoda oleh Chi Soo. Sekarang ia menatap seorang penumpang yang duduk di sebelahnya dengan penuh minat.
Nama penumpang itu adalah Choi Kang Hyuk ( Lee Ki Woo) dan Kang Hyuk berkata dengan sopan, “Ohayu.” (selamat pagi dalam bahasa Jepang). Wanita itu mendesah tentang bepergian sendirian dan menemukan hidup itu sangat sepi. Kang Hyuk melihat ada sisa makanan di bibir wanita itu, ia pun menunujuk ke mulutnya, tapi wanita itu berpikir kalau ia merasa pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya dan bertanya, “Apakah kau akan berkata kalau bibirku indah?” Ia mengira kalau Kang Hyuk adalah seorang playboy seperti Chi Soo, ia bergumam pada dirinya sendiri dalam bahasa korea, tentang kedangankalan pria.
Kang Hyuk membersihkan noda dari bibirnya dan berkata dalam bahasa Jepang, “Aku lebih suka berkata kalau bibirmu hangat daripada bibir yang indah.” Wamita itu kembali tertarik padanya. Kemudian Kang Hyuk menjilat saus dari jarinya,mengerutkan keningnya karena saus itu tidak enak.
 

Di luar sebuah minimarket di sekitar gosiwonnya, Eun  Bi minum bir bersama Dong Joo yang kembali masuk ke dalam untuk membeli bir lagi. Ia menabrak seorang pelanggan. Ia siap untuk memarahinya karena kekasarannya, tapi ia jadi terdiam ketika menatap Kang Hyuk yang tinggi dan menawan. Kang Hyuk bergumam, “Sumimasen.” (aku minta maaf.) dan Dong Joo hampir tidak bisa berkata, “Arigatou.”
 

Eun Bi memikirkan apakah Chi Soo hanya mempermainkannya atau ia benar-benar serius dengan perkataannya yang menggoda. Ia menganalisa hidupnya secara berlebihan, apa maksud Chi Soo dengan mencium dahinya? Dan ancaman untuk mengencaninya? Ketika ia menolak uang taksinya, apakah Chi Soo bermaksud untuk membayarinya?
 

Eun Bi memutuskan untuk mengeluarkan semua rasa frustasinya dengan memainkan permainan meninju, ia bahkan mengalahkan score tertinggi sebelumnya, dengan satu pukulan yang solid. Seorang ajusshi sangat terkesan dan juga Kang Hyuk yang berhenti (sambil minum sebotol susu) untuk melihat Eun Bi bermain. Ia tersenyum.
Kang Hyuk tiba di rumah sakit dan bertanya kamar seorang pasien. Perawat menanyakan nama dan kartu identitasnya, ia mengambilnya, tapi kemudian berhenti, berkata kalau ia harus membuka tasnya untuk mendapatkannya. Ia mendesah dengan dramatis, kemudian membungkuk untuk membuka tasnya.
 

Ternyata ia datang untuk menjenguk ayah Eun Bi yang sangat mengenal Kang Hyuk. Ia mengejeknya karena tindakannya yang berlebihan.
Ayah memberitahu Kang Hyuk untuk menemui “orang itu” selagi ia ada disini dan Kang Hyuk bertanya bagaimana keadaan “istrinya”, “ Apakah ia masih memiliki temperamen yang seksi?”
 

Dalam perjalanan ke sekolah keesokan harinya, Eun Bi mengingat saran Dong Joo untuk tidak menganggap serius perkataan menggoda siswanya. Ia pun memutuskan untuk tetap dingin tentang apa yang dialaminya kemarin. Tapi dua detik kemudian, ia melihat Chi Soo bersama teman-temannya, ia pun bersembunyi sampai mereka lewat.
Hari ini hari pertama dimana guru magang boleh memimpin kelas. Eun Bi mengganti bajunya dengan baju olahraga berwarna pink untuk memimpin kelas olahraga. Pelatihnya mengeluh, “Kenapa kau berpakaian seperti artis hollywood penarik paparazzi?”
Sayangnya hanya dua siswa yang hadir, sedangkan yang lain memilih untuk belajar sendiri. Dan salah satu dari mereka tidak tahu bagaimana bermain basket.
 

Ba Wool pun masuk kedalam bersama teman-temannya….yang diikuti oleh Chi Soo dan temannya. Padahal Eun Bi sudah berharap kalau Chi Soo tidak muncul.
Ba Wool juga tidak merasa senang dan menggeram di depan wajah Chi Soo, siap untuk bermain basket F4. Eun Bi mencoba memulai permainan dan dengan cepat mundur untuk menghindari interaksi lebih lanjut, tapi Chi Soo berusaha untuk berinteraksi dengannya.
 

Ketika ia memegang bola, Eun Bi melihat Ba Wool untuk melemparkan bola. Sayangnya Ba Wool dijaga oleh Chi Soo. Eun Bi dan Ba Wool pun saling mengirim pesan dengan kernyitan hidung dan sentakan. Ia pun melemparkan bola ke arah Ba Wool yang membuatnya mencetak angka. Mereka ber high five dan Ba Wool pun menyanyikan lagu kemenangan dan menari.
Permainan pun berlanjut, satu persatu playboy itu melewati Eun Bi dan mencoba untuk mengganggu konsentrasinya dengan kata-kata murahan, “Aku mungkin saja sadis, Guru. Mau menggaruk papan cucianku?”
 

Eun Bi mencoba bertahan dari pesona mereka, tapi ketika Chi Soo berjalan pelan-pelan disampingnya dan memeluk pinggangnya dan berkata, “ Tanganmu kokoh, tapi pinggangmu pasti ramping.”Eun Bi pun kehilangan bolanya.
 

Dong Joo dan pelatih Seo menonton dari atas bangku. Mereka ber tsk tsk tsk atas keadaan Eun Bi. Dong Joo menyuruh pelatih untuk santai karena Eun Bi  sekarang “sudah menjadi seseorang.” Ia mengacu kalau pelatih sudah mendorong sifat pemarah Eun Bi di pertandingan voli. Temperamennya yang meledak-ledak membuatnya kesusahan. Sekarang Eun Bi sudah merubah pola pikirnya.
Pelatih membalik kata-kata Dong Joo tentang menjadi seseorang dengan semua usaha yang dilakukannya untuk wajahnya, “Itu bukan operasi plastik, tapi arsitektur.”
Eun Bi ditegur oleh guru yang memberinya tugas untuk melatih olahraga para siswa. Eun Bi tidak melihat kalau ia membuat kesalahan, tapi guru itu menyahut, “Bagaimana jika salah satu dari mereka terluka!”
 

Eun Bi dihukum untuk membersihkan ruang olahraga. Eun Bi menggerutu kalau guru-guru takut pada anak dewa Hwanung. Ia ada dibawah serambi sehingga Chi Soo dan teman-temannya tidak melihat ketika berjalan-jalan di lantai atas ruang olahraga. Mereka bertanya-tanya kenapa Chi Soo berkeras untuk mengikuti kelas olahraga hari ini, apakah ia tertarik pada guru itu. Eun Bi pun jadi tertarik untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Ia berpikir apakah instingnya benar.
Salah satu dari mereka, rocker dari Hongdae Hee Gon, mengeluh kalau direcoki oleh seorang gadis yang tidak berhenti mengsmsnya dan Chi Soo pun menawarkan saran, “Beritahu dia kalau dia cantik.” Hee Gon tidak melihat kalau gadis itu cantik. Chi Soo pun menambahkan, “ Beritahu dia kalau tahi lalatnya cantik.” Untuk mengakhirinya ia harus mencium keningnya, bukan bibirnya. Dengan cara itu ia akan terlihat tulus. 
 

Kasihan Eun Bi, ia sudah membuat fantasi konyol, tapi akan terasa sakit mendengar mereka menertawakan dirinya. Ia mengikuti Chi Soo sampai ke lorong dan menyuruh Chi Soo berhenti, ia gemetar karena marah dan sebuah bola volly ada ditangannya. Chi Soo menyeringai puas, memang bagus kalau kau sangat serius mengajar, tapi aku sudah bosan bermain, guru. Eun Bi melepas lencana gurunya dan memperingatkan kalau ia akan menghitung sampai tiga dan akan melemparinya bola, jadi ia lebih baik mempersiapkan diri.
Chi Soo berpikir kalau Eun Bi hanya menggertak. Tapi Eun Bi tidak menggertak dan melempar bola tepat ke wajahnya, membuatnya tergeletak dan semua siswa menahan napas. Eun Bi memperingatkannya untuk menghindari dirinya, “Jangan berani-berani menginjak bayanganku.”
 

Chi Soo tidak bisa menerimanya dan dengan marah, ia mengangkat tangannya, hanya saja ada seseorang yang memegangnya. Kang Hyuk memberitahunya untuk tidak memperlakukan wanita seperti ini, “Paling tidak pada istriku.”
Eun Bi dan Chi Soo sama-sama terkejut mendengar kata “istri”, tapi Kang Hyuk hanya tersenyum pada Eun Bi.
Kepala guru datang dan Kang Hyuk menemukan dirinya  sendirian di lorong, berbaring sambil memeluk bola voli. Ia bergumam dengan lesu, “Ah, ini semua terasa sakit.”
Eun Bi dibawa ke kantor Kepala Sekolah yang menyuruhnya untuk pulang. Ia akan memberitahu apa keputusan dewan sekolah.
 

Chi Soo diperiksa di rumah sakit. Dokter menyatakan kalau ia baik-baik saja, ia hanya butuh istirahat. Chi Soo tidak setuju ketika dokter berkata kalau “ia membiarkan dirinya dipukul” dan meminta mengubah laporannya itu menjadi “korban pemukulan”. Ini masalah harga diri. Karena ia merasa kalau ia membiarkan dirinya dipukul, maka Eun Bi mendapatkan  hal yang lebih baik darinya. Ia lebih suka berpikir kalau ia tidak pernah membiarkan seseorang menjatuhkannya.
Jadi ketika ayah dan sekretarisnya sedang mendiskusikan keadaannya (“Untung saja gadis itu tidak bermain baseball”), Chi  Soo marah ketika mendengar mereka menggunakan kata “terpukul” secara terus- menerus.
Ayah mengusulkan untuk untuk memecat guru itu, tapi Chi Soo dengan kesal memberitahu ayahnya untuk tidak melakukannya. Ayah berkata pada sekretarisnya kalau Chi Soo marah, tapi sekretarisnya membetulkannya, “Itu karena ia dipermalukan.”
 

Eun Bi duduk bersama ayahnya di rumah sakit, ia merinding ketika ayahnya menebak kalau ia dipecat. Sebenarnya ia belum mendengar apapun, tapi menyimpulkannya ketika Eun Bi berkata kalau ia pulang kerja lebih awal. Kelihatannya ayah memang tidak yakin pada kemampuan Eun Bi dan telah memprediksi kalau ia tidak bisa menjadi guru. Ia mengusulkan kalau sebaiknya Eun Bi kembali bermain voli saja.
Eun Bi menekankan kalau bermain voli itu tidak bisa memberinya cukup uang untuk makan dan ia berkeras untuk tidak hidup hanya dengan makan ramen, ia akan makan nasi. Ia mengartikan kalau ramen itu lebih murah daripada beras dan itu juga menunjukkan kalau ia memilih kehidupan lebih baik dari pada kemiskinan. Itu juga mencerminkan hubungannya dengan ayah. Ia benci melihat kecintaan ayahnya pada toko ramennya, dimana ia berpikir kalau ayah lebbih mementingkan tokonya daripada keluarganya sendiri.
Ayah mencemaskan kerutan baru yang ada di dahi Eun Bi, memberitahunya untuk hidup dengan mudah, tidak perlu membebani otaknya, “Jika kau tidak mampu membayar botox, jangan sampai hidup stress.” Berkebalikan dengan Eun Bi, ayah menyeringai ketika melihat makan malamnya nasi, ia lebih suka kalau makan ramen saja.\
 

So Yi mengunjungi Chi Soo dan bertanya apakah ia akan memecat guru itu. Dengan gigi yang dikatupkan ia berpura-pura kalau ia melupakannya. Kalau ia memecatnya, itu akan membuktikan kalau ia terpengaruh olehnya.
Chi Soo sedang tidak mood untuk berjalan-jalan dengannya, jadi ketika Ba Wool lewat (ia datang untuk menjenguk ayah Eun Bi) ia memberitahu So Yi untuk pergi dengan pacarnya yang lain. Dengan gembira So Yi meminta Ba Wool untuk makan malam bersamanya, tapi Ba Wool masih kesal karena So Yi telah membuangnya dan pergi  meninggalkan So Yi.
 

So Yi pun pergi meninggalkan rumah sakit, Ayah yang penasaran perlahan-lahan mendekati Chi Soo untuk bertanya tentang pacarnya yang cantik. Dengan merasakan dada Chi Soo, ayah memberitahunya kalau Chi Soo adalah orang yang terlihat bagus di luar, tapi didalam, ia hampa dan seperti gurun. Menunjukk es kopi Chi Soo, “Itu karena kau selalu meminum hal-hal yang dingin. Kau harus mengisinya dengan hal-hal yang panas…….”
 

Chi Soo merasa terganggu dan membuang tangan ayah, memukulnya balik. Ayah mencengkeram dadanya dan terengah-engah seperti sedang sekarat dan meminta sesuatu untuk membangkitkannya. Sesuatu yang memberi energi, hangat, vital. Bisa menduga apa itu kan?
Ia mulai mengarahkan Chi Soo ke rumahnya, ke lemari kedua, diatas rak pertama, didalam panci perak….ramen yang panas. Chi Soo sangat perlu untuk menghangatkan hatinya, “Memakannya akan merubahmu menjadi seseorang .”
Chi Soo menjadi kehilangan kesabarannya, ia pergi dengan jengkel. Ia tidak melihat kalau ayah terjatuh, kali ini ia tidak berpura-pura.
Ba Wool sudah cukup merasakan sakit hatinya, akhirnya ia menerima tawaran So Yi untuk makan malam, dimana So Yi mengusulkan kalau mereka berkencan lagi. Ba Wool pun tersenyum lebar. Tapi senyumnya menghilang ketika So Yi menjelaskan kalau ia juga akan berkencan dengan Chi Soo dengan menggunakan metafora tentang sungai yang terbagi menjadi dua aliran dan akan buruk jika salah satu aliran di blokir dan untuk kepentingan semuanya, bla bla bla. Ia berkata kalau aliran pada sisi Ba Wool akan lebih baik jika aliran pada Chi Soo juga di buka. Penjelasan yang terdengar tidak masuk akal.
 

Eun Bi akhirnya mengalah dan membawakan ayah ramen. Ia bertemu dengan Chi Soo di lift dalam perjalanannya ke atas. Ia masuk dengan tenang dan mengabaikan Chi Soo, sedangkan Chi Soo menjadi senang, untuk pertama kalinya dalam hari ini ia tidak merasa kesal, dan berpura-pura kalau lehernya sakit. Dengan puas ia berkata ia berpikir kalau Eun Bi akan datang lebih cepat, tentu saja untuk meminta maaf.
 

Tapi pintu lift terbuka dan Eun Bi berjalan melewatinya, meninggalkannya yang belum selesai bicara. Terkejut, ia pun segera menghalangi langkahnya, “Kau tidak datang untuk meminta maaf?” Eun Bi memberitahunya kalau Chi Soo berhutang satu padanya bukan sebaliknya, “Kau bahkan tidak tahu kenapa kau dipukul kan?” Chi Soo benar-benar tidak tahu dan Eun Bi memberitahunya kalau itu bukan hal yang penting, karena Dewa Hwanung bisa meneruskan hidupnya tanpa perlu tahu.
Chi Soo mengoceh tentang bagaimana harga diri Eun Bi terluka dan ia tahu kalau ia datang untuk meminta maaf, tapi kemudian, Eun Bi melihat ayahnya di dorong di brankar oleh Kang Hyuk yang terlihat cemas. Eun Bi langsung berlari ke arahnya, tapi Chi Soo memegang tangannya dan berkata kalau ia belum selesai bicara. Eun Bi melepaskan tangannya dan berlari di lorong meninggalkan Chi Soo yang memegang bungkusan ramen ternganga dalam kebingungan.
 

Ini berita buruk. Eun Bi berdiri dengan kaget, sedangkan Dong Joo menenangkannya. Ba Wool datang bersama teman-temannya, mereka berpakaian hitam.
Chi Soo tidak percaya kalau Eun Bi berani mengabaikannya dan gembira ketika ia melihat Ba Wool, ia berbicara padanya tentang guru magang yang menyebalkan, tapi Ba Wool hanya melewatinya, bahkan tidak sadar akan keberadaannya.
 

Chi Soo mengikuti mereka ke bagian pemakaman di rumah sakit dan terkejut ketika melihat teman-teman Ba Wool membungkuk memberi hormat pada Eun Bi yang berpakaian hitam. Dan ketika ia melihat ke arah foto pemakaman, ia mengenali pria ramen itu.
Dengan canggung, Chi Soo menawarkan tas berisi ramen itu pada Eun Bi, ia berpura-pura tidak tidak peduli. Eun Bi memberitahunya untuk membuangnya saja, lagipula ia tidak akan bisa memakannya lagi.
 

Beberapa lama kemudian, Eun Bi dibangunkan oleh seorang ajusshi teman ayahnya. Ia telah tertidur di altar pemakaman. Ia mengembalikan jaket yang sudah digunakan untuk menyelimutinya, tapi ternyata jaket itu bukan miliknya.
Dalam pesta pemakaman, Kang Hyuk yang mengurus semuanya. Ia memakai setelan hitam tapi tanpa jaket.
 

Chi Soo membawa ramen itu ke kamarnya, ia membukanya dan melihat panci perak yang diberi nama Eun Bi.
Chi Soo melemparkan ramen itu ketempat samapah, tapi ketika petugas kebersihan akan membuangnya, ia mengambil tas itu kembali. Ia membaca pada cetakan pada tas itu kalau itu berasal dari toko makanan kecil Eun Bi, dengan alamat dan peta yang dicetak di sisi yang lain.
 

Malam itu, Eun Bi duduk sendirian di toko, makan ramen dan minum soju untuk menghormati ayah. Ini membawa kembali kenangannya ketika ayah mengajarinya bagaimana cara minum dengan benar, hanya saja gelasnya berisi susu (sangat jelas kalau kebiasaannya itu digunakannya ketika ia minum cola bersama Ba Wool). Ayah menunjukkan cara yang benar, Eun Bi pun mengikutinya.
Kenangannya pun berlanjut, seperti saat ayah memergokinya sedang mengukir di meja (ukiran itu masih ada dan kita lihat dalam episode 2). Dan juga waktu ayah memergokinya membawa rokok dan Eun Bi sudah menuduhnya bahkan tidak memikirkannya sebagai putrinya pula dan ayah pun menamparnya.
 

Kembali ke masa kini. Eun Bi membayangkan dirinya yang masih muda keluar dari toko, sedangkan ayah melihatnya dengan sedih. Eun Bi berpikir:
 “Jangan pergi. Jangan tinggalkan, ayah akan jadi sendirian. Ayah akan sangat kesepian. Ketika pintu tertutup setiap malamnya, apakah kau berdiri seperti itu, Yah? Dengan ibu pergi dan aku, apakah kau disini sendirian setiap malam? Kupikir aku satu-satunya yang merasa kehilangan ibu. Kupikir aku satu-satunya yang merasa sendirian. Kau juga kesepian, tapi aku tidak menyadarinya.”
Sekarang Eun Bi menangis dan berkata, “Ayah, aku minta maaf.”
 

Seorang pria masuk dan ia mendongak melihat ayah tersenyum padanya. Dengan penuh harapan ia bertanya, “Ayah, kau tidak pergi? Aku minta maaf, aku salah. Aku tidak akan minum banyak lagi, atau menulis grafiti dimana saja. Tapi rokok itu benar-benar bukan milikku. Rokok itu milik Dong Joo. Aku hanya mengatakan itu karena aku kehilangan kesabaran. Jadi jangan tinggalkan dan membuatku sendirian. Aku salah, jangan tinggalkan aku.”
 

Ayah memberitahunya, “Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Eun Bi memeluk tangannya dan menangis…..ketika kamera berubah sudut, ternyata Kang Hyuk yang berdiri disana.
Ketika Eun Bi mendongak ke arah Kang Hyuk lagi, ia masih terbawa ilusinya dan bertanya-tanya kenapa ayah terlihat jauh lebih muda. Ia bertanya, “Apakah kau benar-benar ayahku?”
Kang Hyuk menjawab dengan senyuman yang lembut, “Tidak, aku bukan ayahmu. Aku suamimu.” Karena bingung, Eun Bi mengintip ke arahnya dan bertanya-tanya, “Suamiku….?”
 

Dan ada seseorang yang melihat dari pintu. Orang itu adalah Chi Soo. Dengan ekspresi setengah terkejut dan setengah tidak percaya apa yang dilakukannya disini.

Related Posts by Categories

0 komentar: