Sinopsis Wild Romance Episode 12

Posted: Minggu, 08 April 2012 by khyunkhyun in Label:
0



Muyeol dan Jonghee menunggu Eunjae di rumah sakit. Setelah Eunjae keluar, Muyeol langsung menghampirinya. Eunjae tidak suka sikap Muyeol yang khawatir terhadapnya.
Muyeol dan Jonghee membawa alat-alat lukis yang dibeli oleh Jonghee. Muyeol lega Jonghee mau melukis lagi. Proses pemulihan Jonghee juga cepat. Muyeol berencana memulangkan Jonghee ke Inggris kalau dia tidak juga membaik. “Kau pikir aku akan pulang meskipun kau suruh pulang?”tanya Jonghee. “Kalau situasinya memang harus memulangkanmu, bagaimana pun caranya pasti kau akan ku pulangkan.”jawab Muyeol. Muyeol lebih suka dibenci daripada melihat Jonghee menderita.
Jonghee menyuruh Muyeol pulang, tapi Muyeol ingin menjaganya. Jonghee marah, “Jika kau terus-terusan seperti ini, lambat laun aku akan menjadi bebanmu. Dengan begitu, perlahan-lahan kita akan merasa kelelahan. Seperti dulu.” mendengar perkataan Jonghee akhirnya Muyeol mau pulang.

Ketika bangun pagi Eunjae melihat ayahnya, lalu bertanya jam berapa semalam ayahnya pulang. Ayah tidak bisa menjawab, dan mengajukan pertanyaan apa Eunjae pergi mencari ibunya. Eunjae heran bagaimana ayahnya tahu. “Äku tidak akan bertemu dengannya lagi, kau tidak usah khawatir.”katanya.
Eunjae keluar bertemu dengan Dongah di depan rumah. Eunjae menanyakan kabar temannya itu yang habis sakit. Eunjae juga menanyakan apa manager Kim sudah menelpon Dongah apa belum. Dongah menjawab belum, dan dia tidak mau menelepon manager Kim duluan. Eunjae tanya alasan Dongah. “Tahukah kau kenapa hanya sekali dalam sehari aku bermain dengan Gomi (anjingnya)? Karena kalau terlalu sering dia akan jadi manja. Bukan Gomi, tapi aku. Kalau aku terlanjur memiliki perasaan yang mendalam terhadapnya, aku akan semakin sedih kalau suatu hari aku tidak dapat menyentuhnya lagi. Maka dari itu, semua macam hubungan harus berada di ruang lingkup yang dapat aku kendalikan.” Ada rasa ketakutan di nada bicara Dongah. Takut kehilangan.
Eunjae mencoba membantu Dongah dengan bicara dengan manager Kim. Eunjae berkata kalau manager Kim sudah salah paham. Manager Kim tidak mengerti salah paham seperti apa. Eunjae berkata kadang bercanda Dongah memang keterlaluan, pada situasi serius juga dia masih bercanda. Manager Kim tidak tahan dengan Dongah yang susah diprediksi. “Bukankah kau suka dia karena dia seperti itu? Dongah berbeda dengan orang lain.”
Manager Kim: Lebih berbeda daripada yang kusangka. Hampir saja mati tapi masih bisa bercerita dengan begitu santai. Kurasa aku tak sanggup menanganinya.
Eunjae : Dia bukannya ketakutan. Dia sangat ketakutan. Dia ketakutan dan tidak ingin mengingat hal itu. Karena begitu dia mulai memikirkannya, dia tidak akan sanggup berhenti. Dia akan melampiaskannya ke orang-orang sekitarnya. Pada saat kedua orang tua Dongah meninggal secara bersamaan, dia berbicara terus menerus sampai mulutnya kering. Kalau tidak begitu, mungkin dia akan jadi gila. Kenapa Dongah sangat suka membaca? Karena tragedi di dalam buku tidak akan ada hubungannya dengan dirinya.”
Manager Kim bertanya pada Eunjae apa yang seharusnya dia lakukan. Kalau traumanya sangat serius, lebih baik diobati. Manager Kim pergi. Eunjae menghela nafas. Sepertinya caranya tidak berhasil.
Bibi pengurus rumah Muyeol datang dan langsung membereskann kamar Muyeol. Muyeol sedang mandi. Dia melihat ponsel Muyeol yang tergeletak di atas kasur, lalu membukanya. Si bibi tahu password kunci ponselnya Muyeol, lho. Dia membuka nomor siapa saja yang sudah Muyeol hubungi, lalu sms dari siapa saja yang masuk ke ponselnya. Trus bibi juga membaca diarynya Muyeol. Bibi satu ini gak sopan buanget.
Direktur Jang datang. Muyeol cepat-cepat keluar dikira Jonghee yang datang. Bibi bertanya mau kemana Muyeol dengan Jonghee. Bukannya Jonghee sakit parah, apa boleh keluar. Muyeol berkata kalau proses penyembuhan Jonghee sangat cepat. Ajaib, kan. Bibi kesal sekali melihat Jonghee.

Jonghee datang bersama Eunjae. Mereka berempat pergi ke pusat perbelanjaan. Ternyata Muyeol membawa Eunjae ke tempat peluncuran buku Lee. Jonghee tidak mau ikut dengan mereka. Direktur menyuruh Eunjae mengikuti Jonghee. Eunjae jelas gak mau. Akhirnya direktur Jang yang mengikuti Jonghee.
Muyeol menyapa semua pemain Blue Seagulls. Muyeol lalu memanggil Eunjae. Muyeol mengenalkan Eunjae sebagai pengawal pribadinya yang fanatik dengan Blue Seagulls. Eunjae girang banget.
“Keren sekali.”kata Eunjae sambil menunggu pemain Seagulls menandatangani bukunya. “Yang mana yang keren?”tanya Muyeol dalam hati. Woo, giliran Muyeol nih yang melakukan komunikasi kebatinan. “Benar-benar dilihat dari manapun juga keren..”. “Äigoo...”. “Tahun depan harus menang ya!”. Ïtu tidak mungkin.”. salah satu anggota Seagulls mengenali Eunjae, dia minta salaman dengan Eunjae, Eunjae senang sekali bisa salaman dengan idolanya. Lalu mereka foto bersama. Eunjae menyuruh Muyeol memoto mereka berdua. Muyeol memoto mereka dengan kesal. Tapi yang difoto Muyeol bukan wajah Eunjae dengan idolanya, tapi cuman wajah idolanya Eunjae saja. Eunjae merengek kembali ke tempat tadi mau foto lagi sama idolanya. Ini adegan paling lucu di episode ini, cara Eunjae merengek lucu banget.
Jonghee sedikit cemburu melihat keakraban Muyeol dengan Eunjae. Jonghee yang sedang melihat-lihat sepatu kets memutuskan membeli satu. Beberapa saat perhatian Muyeol teralihkan dari Jonghee ke Eunjae. Eunjae melihat Jonghee dengan iri, karena Muyeol membetulkan tali sepatunya.
Di rumah, Jonghee bertanya pada Eunjae sejak kapan dia menyukai Park Muyeol? Eunjae menyangkalnya. “Baiklah, tidak dapat menyatakan perasaan, berarti masih belum terlalu suka.” Komentar Jonghee atas penyangkalan Eunjae. Eunjae pergi dengan hati hancur. “Kau belum tahu.”keluh Eunjae.
Wartawan Koh dan manager Kim datang ke kafe. Di kafe, pemilik kafe ngomel-ngomel karena Dongah keluar begitu saja. Dia memuji Yunyeok yang ada di sebelahnya yang selalu rajin bekerja.
Yunyeok kaget melihat wartawan Koh yang datang bersama manager Kim. Situasi semakin tegang. Wartawan Koh mencoba membujuk Yunyeok untuk memberikan informasi siapa kemungkinan yang bisa mengirimkan foto itu. Yuyeok menolaknya, dia merasa tidak tahu apa-apa. Dia tidak mau bekerjasama dengan mereka.
Manager Kim diam saja sebelum Yunyeok menyinggung soal karyawan dapur mereka yang mendadak tidak masuk kerja. Manager Kim mengerti siapa yang dimaksud Yunyeok. Detik itu juga manager Kim mengambil serbet yang ada di depannya lalu dengan sekuat tenaga menebaskannya pada Yunyeok. Manager Kim sudah emosi sejak masuk ke dalam cafe itu. “Ïni hukumanmu, kau keparat. Ini semuanya? Semua yang ingin kau katakan kepada wanita itu? Mendadak berhenti bekerja?” baru pertama kali ini manager Kim bicara pake bahasa non formal.
Wartawan Koh kaget melihat reaksi manager Kim, lalu menariknya keluar dari tempat itu. “Äpa kau tahu betapa ketakutannya dia karena perbuatanmu? Karena kau, wanita yang kau lukai itu...” manager Kim masih teriak ke Yunyeok. Manager Kim bener-bener daebak. Keren pisan.
Pemilik cafe bertanya ke Yunyeok apa itu tadi. Dan seperti manager Kim, ini pertama kalinya Yuyeok bicara gak sopan. “Kau tidak perlu tahu.”. Yunyeok juga shock sebenarnya atas perlakuan manager Kim barusan.
Di luar, wartawan Koh marah ke manager Kim. “Dibujuk saja dia belum tentu mau. Apa ini karena nona Dongah?”. Manager Kim hanya bisa meminta maaf.
Sooyung bersama ibunya datang ke tempat Jonghee. Eunjae menyambutnya dan memberitahukan kala Jonghee sedang melukis. Sooyung heran, bukannya dia berhenti melukis.
“Punya bakat seperti ini, mau dilepaskan juga tidak bisa.”kata ibu Sooyung. Ibu Sooyung sepertinya menyindir Sooyung.
Mereka berdua pergi melihat Jonghee di kamarnya. Jonghee diam saja melihat mereka berdua. Dia pergi keluar ruangan melukisnya. Ibu Sooyung menyuruhnya untuk melihat lukisan Jonghee. “Kalau matamu masih bisa menilai, maka kau pasti bisa merasakannya.”kata ibu sinis. Sooyung melihatnya dengan sedih.

Jonghee bertanya mengapa ibu Sooyung datang ke tempatnya. Ibu Sooyung berencana untuk memamerkan lukisan-lukisan Jonghee di galerinya. Akan dibuka pameran memorial, ada beberapa lukisan dari Inggris yang dipamerkan. Ibu Sooyung dan Jonghee membicarakan tentang pameran itu. Sooyung merasa sangat tertekan. Dia memutuskan untuk kembali terlebih dulu. Eunjae memperhatikan Sooyung.
Sooyung pergi tanpa persetujuan ibunya. Ibunya tidak suka dengan kelakuan Sooyung. Dan aku juga tidak suka dengan ibunya Sooyung *abaikan!
Dengan lunglai dan wajah pucat Sooyung masuk ke lift. Dibawah dia bertemu bibi. Sooyung tidak sadar kalau dia sudah sampai di lantai bawah. Sooyung gontai, hampir saja jatuh. Bibi menolongnya, membawanya ke rumah Muyeol. Bibi bertanya ada apa dengan Sooyung. Sooyung menggelengkan kepalanya. “Ya, kadang bisa mendadak terasa lemas. Aku hampir mati lemas karena masalahku. Tidak ada yang tahu, juga tidak bisa memberitahu siapapun. Kadang aku ingin mengeluh, tapi orang yang paling bersalah adalah aku.”kata bibi. Sooyung bukannya tenang, dia malah menangis. Bibi memeluknya. “Kenapa dia berbuat sesuka hatinya. Dia sudah bilang tidak akan melukis lagi.”kata Sooyung sambil menangis. Sepintas bibi seperti ingin menenangkan Sooyung, tapi sebenarnya dia justru malah ngompori Sooyung, malah bikin Sooyung lebih tertekan.
Saking bosannya nungguin Jonghee yang sedang melukis, Eunjae sit up di ruang tengah. Ayah Eunjae menelpon, mengajak Eunjae bertemu dengan teman wanita ayahnya.
Jonghee keluar dari ruang melukisnya. Dia senyum-senyum lalu menghampiri Eunjae dan menggigitnya. Wew, digigit? “Äyo kita bikin pesta.”ujarnya.
Eunjae, Jonghee dan Muyeol pergi ke supermarket. Muyeol heran kenapa Jonghee tiba-tiba jadi lebih gembira. “Aku tidak tahu kalau lebih gembira, yang pasti jadi lebih ganas. Bisa menggigit orang lagi.”kata Eunjae. Muyeol heran mendengarnya. Jonghee mulai suka dengan Eunjae. Jonghee suka menggigit orang yang dia suka. Wohoho..

Bibi kaget melihat mereka datang dengan membawa belanjaan. Muyeol berkata Jonghee bisa mengatasi ini semua (masak, maksudnya). Jonghee mengambil celemek di laci bawah. Bibi melihatnya dengan pandangan tidak suka. Apalagi Muyeol juga menyuruh bibi pulang.
Eunjae diperintahkan Jonghee mengupas bawang. Eunjae mengupas bawang sampai nangis-nangis. Sementara Jonghee menyiapkan yang lain. Jonghee meminta tolong pada Muyeol untuk membuka tutup saosnya. Eunjae bilang dia bisa membukanya. Percobaan pertama, Eunjae gagal. Muyeol bilang biar dia saja yang membuka. Eunjae tidak mau memberikannya. Percobaan kedua, sudah dibuka dengan sekuat tenaga, pake kain lap, diketok-ketok, diapain juga gak bisa kebuka tuh tutup botol. Muyeol sampe heran dengan kelakuan Eunjae. Lalu, “Yeah...kebuka. lihat! Kebuka, kan?”. Muyeol memuji Eunaje yang yang keras kepala sambil mengacak-ngacak rambutnya. Jonghee memperhatikan mereka.
Semuanya sudah berkumpul. Mereka bertiga saling berebut ikut andil dalam memasak. Jonghee protes, Eunjae hanya buka tutup botolnya doang. Hahaha.
Mereka makan bersama dengan gembira. Kontras benget dengan bibi yang makan sendirian di rumahnya.
Setelah semua selesai makan. Eunjae membantu Muyeol membersihkan piring. Eunjae dan Muyeol saling becanda. Jonghee melihat ini dari belakang, cemburu mulai tumbuh d hati Jonghee.
Jonghee memikirkan sesuatu, lalu Jonghee mengajak Muyeol untuk jadian lagi. Semuanya kaget. Jonghee sudah memikirkan hal ini, “Lagipula, aku juga merasa sedikit tidak tenang. Entah kenapa, tapi rasanya kali ini akan lebih baik dibanding dulu.”. Muyeol diam saja, lalu menoleh ke Eunjae yang sedang memotong apel. Semua diam saja. Lalu tiba-tiba Sooyung merasa sakit diperutnya. Dongsu dan Muyeol membawanya ke rumah sakit.
Jonghee bertanya pendapat Eunjae, jawaban apa yang mungkin Muyeol berikan. Melihat cincin yang dipakai Jonghee, dia sudah menganggap mereka berdua pacaran. Jonghee mengelak, ini hanya aksesoris. Waktu putus dulu dia tidak berniat mengembalikannya.
Dongsu menunggui istrinya di rumah sakit. Sooyung tidak apa-apa.
Dongsu mengucapkan selamat pada Muyeol, karena Jonghee sudah menyatakan cinta padanya. Dongsu bertanya bagaimana dengan Muyeol. Muyeol bingung harus menjawab apa. Dia juga bercerita tentang kata-kata di bawah lukisan yang dulu pernah mereka buat. Meskipun sedikit naif, tapi terdengar tulus. Berpisah begitu lama, tapi tak pernah berniat untuk mengakhirinya. Jonghee dan Muyeol tidak mungkin berakhir beggitu saja. Itulah keyakinan Muyeol dulu. Tapi setelah ketemu lagi, dia sadar kalau semuanya memang sudah berakhir.
Sebelum masuk rumah, Eunjae menemui Dongah dulu. Dongah masih saja baca novel. Dia juga mengacuhkan pertanyaan Eunjae apa manager Kim belum juga menelpon. Eunjae menyeletuk, “Jadi manusia itu benar-benar susah.’Dongah baru nengok, karena temannya itu baru mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia katakan sebelumnya. Dia menceritakan Jonghee yang begitu berani menyatakan cintanya pada Muyeol di depan banyak orang. Benar-benar berani. Dia menang mutlak.
Dongah merasa kalau dirinya juga seperti itu. “Kalau kau namanya ceroboh.” Eunjae menimpali. Eunjae beranjak pergi dan melihat Dongah yang tetap saja membaca. Eunjae. Eujae bertanya apa dia baik-baik saja. Dongah tidak menimpalinya.
Eunjae dan Changho mempersiapkan pertemuan mereka dengan ahjuma pacar ayah mereka. Mereka berdua penasaran seperti apa orang itu. Eunjae hanya menjawab, seperti apapun asal dia sayang ayah itu sudah cukup. Ayah mereka masuk dengan membawa perempuan yang akan dikenalkan pada anak-anaknya yang ternyata itu adalah ibu mereka.
Wajah Eunjae berubah setelah tahu wanita itu adalah ibunya. Changho yang tidak terlalu mengingat ibunya memberi salam. Ibu Eunjae ingin pergi dari situ, tapi ditahan oleh ayah Eunjae.
Eunjae tidak tahan dan pergi dari situ. Ayah menyusulnya. Eunjae kesal terhadap ayahnya yang tetap setia terhadap ibunya, tidak bisa melihat perempuan lain selain ibunya. “Apa kau tidak sakit hati”tanyanya. Ayah hanya meminta maaf. “Setelah diperlakukan sedemikian rupa, kenapa masih tetap seperti ini?”tanya Eunjae putus asa.
Changho sedikit salah tingkah melihat wanita di depannya. Dia meminta maaf atas kakaknya, dari rumah dia memang sudah tidak enak badan. Ibu menatap Changho lekat-lekat, lalu memanggilnya. “Ya, namaku Changho.”jawab Changho. Ibu menyebutkan namanya, mengenalkan diri. Eun Ji Soo. Sesaat kemudian Changho sadar kalau itu adalah ibunya.

Eunjae pergi ke markas nya, latihan tinju. Eunjae mengingat lagi pertemuan dengan ibunya.
Muyeol bingung, apa yang harus dia jawab kepada Jonghee. Dia membayangkan menikah dengan Jonghee, mempunyai anak, lalu menjadi keluarga yang bahagia. Muyeol bingung masalahnya ada di mana sampai dia bimbang seperti itu. Muyeol lalu menelpon Eunjae.
Muyeol mendatangi Eunjae di markasnya.
Muyeol ada di luar, dia memandangi Eunjae dari luar. Sesampainya di dalam, dia terus memandangi Eunjae yang masih memukuli sansak sampai dia kecapaian. Muyeol membawakannya handuk.
Eunjae tanya apa yang dilakukan Muyeol di sini. Muyeol menjawab, dia juga pusing, kesana untuk melepas stres. Eunjae menyuruh Muyeol push up saja. “Setelah melihat tampang tololmu itu, aku serasa sudah menemukan jalan keluarnya.”kata Muyeol. Eunjae kesel tampangnya dibilang tolol.
Muyeol bertanya apa masalah Eunjae samapi dia stres begitu? “Kau tidak perlu tahu.”kata Eunjae. Ganti Eunjae yang bertanya kenapa Muyeol juga punya masalah yang sebelumnya tidak ada? “Kenapa kau mau tahu?”jawab Muyeol.
Muyeol mengambil sarung tinju yang ada di situ, memakainya, dan memukulkannya ke Eunjae. Eunjae bertanya kenapa dia memukulnya. “Kau bilang sudah berlatih selama 4 tahun tapi tidak bisa menghindar.”kata Muyeol. Eunjae mencoba memukulnya di depan wajah tapi tidak kena. Lalu Eunjae memukul Muyeol di perut. “Kena telak, kan.”kata Eunjae sambil ketawa-tawa.
Mereka berdua akhirnya bertarung tinju. Eunjae menyuruh Muyeol memakai pengaman. Muyeol ngomel kalau itu tidak perlu. Muyeol berkata dia tidak akan mengalah meskipun Eunjae perempuan. Eunjae juga berkata dia tidak akan mengalah meskipun Muyeol adalah pemula. Tidak boleh curang, samapai orang yang kalah mengaku kalah. Yang menang mendapatkan apa yang diinginkannya. Mulai..!!
Baru mulai, Eunjae langsung memukul kepala Muyeol. Eunjae girang. Muyeol mencoba menyerang, tapi Eunaje lebih mahir, dia bisa ngeles. Akhirnya Muyeol bisa memukul Eunjae. Eunjae yang tersudut mendorong Muyeol. Dalam beberapa saat Eunjae ada dipelukan Muyeol. Eunjae menjauh. Muyeol bersiap memukul Eunjae. Eunjae bersiap mengelak. Tapi pukulan Muyeol tertahan di udara. Dia diam saja melihat Eunjae. Lalu menurunkan tangannya. Eunjae heran kenapa Muyeol jadi bengong. Eunjae lalu memukulnya sampai Muyeol jatuh terguling.
Muyeol teringat kenangan-kenangannya dengan Eunjae.
Eunjae panik karena Muyeol gak bangun-bangun. Akhirnya Muyeol bangun juga.
Muyeol memuji pukulan Eunjae yang cukup keras. “Örang pingsan lalu tiba-tiba nyengir itu menakutkan.” Ëunjae protes pada Muyeol. “Jadi apa keinginanmu?”tanya Muyeol. Eunjae ketawa-ketawa. “Kau tidak boleh menyuruhku melakukan hal yang bisa merusak nama baikku.”tambah Muyeol.
Eunjae bingung, sebenarnya dia ingin Muyeol jatuh cinta kepadanya. Tapi akhirnya Eunjae hanya menyuruh Muyeol mengikat tali sepatunya yang longgar. Muyeol melakukannya. Eunjae senang sekali. Eunjae bertanya kalau tadi Muyeol yang menang, apa yang dia minta? Muyeol ingin saat dia bertanding dengan Blue Seagulls, dia menjadi suporter Muyeol. Eunjae ngomel, untung saja tidak kesampaian.
Muyeol selesai mengikat tali di salah satu sepatu, tapi yang sebelah lagi belum. Eunjae ingin Muyeol mengikat keduanya. Muyeol berkata sambil mengacak-acak rambut Eunjae kalau dia akan mengikatkannya lain waktu.
Jonghee masih saja melukis mata. Sooyung juga sedang melukis. Dia sedang melukis dirinya sendiri. Ketika teringat Jonghee dia langsung mengambill cat lalu menambahkan warna merah pada matanya. Woyoung datang menyadarkannya. Woyoung memeluk ibunya, lukisan ibunya sangat menyeramkan. “Katakan padaku kau baik-baik saja.”kata Woyoung. Sooyung meminta maaf dan berkata kalau dia baik-baik saja. Woyoung berkata bukan dia, tapi adik kecil pasti sangat ketakutan juga. Sooyung memeluk Woyoung lagi.
Dongsu ditemani makan malam oleh Sooyung. Mereka berdua kemudian membahas tentang kursus Dongsu. Sooyung takut Dongsu malu karena belajar dengan anak-anak yang lebih muda. Dongsu mengaku kalau dia sedikit malu. “Kalau begitu cari kerja lain saja.” Dongsu kaget mendengarnya. Sooyung juga mengusulkan untuk pindah ke sebuah pedesaan. Sooyung akan mengajar anak-anak desa menggambar di sekolah. Dongsu mengajari mereka bermain bisbol. Woyoung bisa bermain-main. Alangkah baiknya kalau seperti itu. Tidak usah membanding-bandingkan keadaan kita dengan orang lain.
Dongsu menyadari kalau istrinya punya masalah. Dongsu merasa karena dialah Sooyung menderita. Awalnya Dongsu jadi harapan keluarga, tapi ternyata dia melepaskan bisbol. Dongsu meminta Sooyung bersabar, semuanya akan menjadi lebih baik. Dan juga ada Jonghee di sini, jadi bisa pergi bersama-sama. Itu sangat bagus kan? Sooyung hanya mengangguk.
Hmm, sepertinya ini alasan kenapa Sooyung stres berat waktu ibunya berkata mau buat pameran lukisan dengan Jonghee. Sooyung yang sudah belajar melukis sejak lama selalu dibanding-bandingkan dengan Jonghee yang memang telat belajar tapi punya bakat. Oleh ibunya pasti Sooyung selalu direndahkan terhadap Jonghee.

Bibi ada di ruangan yang penuh dengan foto Muyeol. Kebongkar sekarang ternyata bibi yang punya ruangan itu. Jadi si bibi biang keroknya. Tapi foto yang dia dipegang sekarang bukan foto Muyeol, tapi foto Jonghee yang matanya juga dirusak.
Sooyung berbaring di kamarnya, sakit. Woyoung menemaninya sebelum berangkat sekolah.
Saat mengambil minum dia melihat ada sebuat amplop. Dibukannya amplop itu, ternyata isinya foto Jonghee yang matanya dirusak. Sudah tahu kan siapa pengirimnya. Sooyung shock melihat foto itu. Dia bergegas keluar melihat siapa yang mengirim amplop itu. Tapi diluar tidak ada siapa-siapa. Sooyung membalik foto, dibelakangnya terdapat tulisan ‘Siapa yang jahat?’. Sooyung kaget setengah mati.
Apa yang akan terjadi dengan Sooyung selanjutnya?



Source:Pelangdrama.net

Related Posts by Categories

0 komentar: